Jangan jadi TKI yang materialistis....cobalah bersikap RIYAListis
Tampilkan postingan dengan label Posting tetangga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Posting tetangga. Tampilkan semua postingan
Senin, 07 September 2015
JIKA SUATU SAAT NANTI KAU JADI IBU..
********************
Jadilah seperti Nuwair binti Malik (Radhiyallahu 'Anha) yang berhasil menumbuhkan kepercayaan diri dan mengembangkan potensi anaknya..
Saat itu sang anak masih remaja. Usianya baru 13 tahun..
Ia datang membawa pedang yang panjangnya melebihi panjang tubuhnya, untuk ikut perang badar.
Rasulullah (Shallallahu 'Alayhi wa'ala-Aalihi wa-Sallam) tidak mengabulkan keinginan remaja itu. Ia kembali kepada ibunya dengan hati sedih.
Namun sang ibu mampu meyakinkannya untuk bisa berbakti kepada Islam dan melayani Rasulullah (Shallallahu 'Alayhi wa'ala-Aalihi wa-Sallam) dengan potensinya yang lain..
Tak lama kemudian ia diterima Rasulullah (Shallallahu 'Alayhi wa'ala-Aalihi wa-Sallam) karena kecerdasannya, kepandaiannya menulis dan menghafal Qur’an..
Beberapa tahun berikutnya, ia terkenal sebagai sekretaris pencatat wahyu..
Karena ibu, namanya akrab di telinga kita hingga kini:
Zaid bin Tsabit (Radhiyallahu 'Anhu)..
***************************
Jika suatu saat nanti kau jadi ibu..
jadilah seperti Shafiyyah binti Maimunah (Rahimahallah) yang rela menggendong anaknya yang masih balita ke masjid untuk shalat Subuh berjamaah..
Keteladanan dan kesungguhan Shafiyyah mampu membentuk karakter anaknya untuk taat beribadah, gemar ke masjid dan mencintai ilmu..
Kelak, ia tumbuh menjadi jajaran Ulama Hadits dan Imam Madzhab.
Ia tidak lain adalah
Imam Ahmad bin Hanbal (Rahimahullah)..
****************************
Jika suatu saat nanti kau jadi ibu..
Jadilah ibu yang terus mendoakan anaknya .
Seperti Ummu Habibah (Rahimahallah)..
Sejak anaknya kecil, ibu ini terus mendoakan anaknya..
Ketika sang anak berusia 14 tahun dan berpamitan untuk merantau mencari ilmu, ia berdoa di depan anaknya,
“Ya Allah Tuhan yang menguasai seluruh alam! Anakku ini akan meninggalkan aku untuk berjalan jauh, menuju keridhaan-Mu..
Aku rela melepaskannya untuk menuntut ilmu peninggalan Rasul-Mu.. Oleh karena itu aku bermohon kepada-Mu ya Allah, permudahlah urusannya..
Peliharalah keselamatannya, panjangkanlah umurnya agar aku dapat melihat sepulangnya nanti dengan dada yang penuh dengan ilmu yang berguna, aamiin!”..
Doa-doa itu tidak sia-sia. Muhammad bin Idris, nama anak itu, tumbuh menjadi ulama besar. Kita mungkin tak akrab dengan nama aslinya, tapi kita pasti mengenal nama besarnya:
Imam Syafi’i (Rahimahullah)..
**************************************
Jika suatu saat nanti kau jadi ibu..
Jadilah ibu yang menyemangati anaknya untuk menggapai cita-cita. Seperti Ummu 'Abdurrahman..
Sejak kecil ia menanamkan cita-cita ke dalam dada anaknya untuk menjadi Imam Masjidil Haram, dan ia pula yang menyemangati anaknya untuk mencapai cita-cita itu..
“Wahai Abdurrahman, sungguh-sungguhlah menghafal Kitabullah, kamu adalah Imam Masjidil Haram…”, katanya memotivasi sang anak..
“Wahai Abdurrahman, sungguh-sungguhlah, kamu adalah imam Masjidil Haram…”,
Sang Ibu tak bosan-bosannya mengingatkan..
Hingga akhirnya 'Abdurrahman benar-benar menjadi Imam Masjidil Haram dan termasuk deretan Ulama berkelas dunia yang disegani..
Kita pasti sering mendengar Murattal-nya diputar di Indonesia, karena setelah menjadi ulama, anak itu terkenal dengan nama:
Abdurrahman As-Sudais (Hafizhahullahu ta'ala)..
*****************************************
Jika suatu saat nanti kau jadi ibu..
Jadilah orang yang pertama kali yakin bahwa anakmu pasti sukses..
Dan kau menanamkan keyakinan yang sama pada anakmu .
Seperti ibunya Zewail yang sejak anaknya kecil telah menuliskan “Kamar DR. Zewail” di pintu kamar anak itu..
Ia menanamkan kesadaran sekaligus kepercayaan diri.
Diikuti keterampilan mendidik dan membesarkan buah hati, jadilah Ahmad Zewail seorang doktor .
Bukan hanya doktor, bahkan doktor terkemuka di dunia..
Dialah doktor Muslim penerima Nobel bidang Kimia tahun 1999,
Dr. Ahmad Zewail (Hafizhahullahu ta'ala)..
****************************************
Maa syaa'aAllaah..
Rabbanaa hablanaa min azwaajinaa wa min-dzuriyyatinaa Qurrata a'yun waj-'alnaa lil-Muttaqiinaa Imaamaa..
Aamiiin Allaahumma Aamiiin..
(Sumber; copas dr group WA MUSI Cirebon)
Rabu, 16 Oktober 2013
KIRDIAT
Seperti tulisan ana sebelumnya tentang biografi kakekku...Kali ini ana mau mengutip sekelumit cerita kakek yang ana tau almarhum orang tua ana sangat bangga terhadapnya. tulisan ini ana kutip dari buku otobiografinya JA. Katili yang berjudul "Harta bumi Indonesia".....
Berguru kepada pahlawan tak dikenal
Dari kela 0 sampai kelas 4, john bersekolah di Room Christelijke School, Poso. Kepala sekola saat itu adalah Mynheer Hoefman yang kemudian digantikan Silalahi. Guru-gurunya kebanyakan dari Ambon dan Menado, denagan kehidupan yang sangat harmonis. Jarak rumah ke sekolah dekat dan ditempuh dengan jalan kaki.
Pada usia 10 tahun john pindah ke sekolah HIS Gorontalo, di kelas 5 john mulai membaca majalah politik Nationale commentaren. DR, G.S.S.J (Sam) Ratu langie (1891-1949), kawan dekat Nus Kandouw, Pernah menjadi redaktur majalah tersebut selama 4 tahun. DR.Ratu langie, Ahli ilmu pasti,orang indonesia pertama yang mendapat gelar Doktor di bidang matematika. Yang juga di kenal sebagai pemimpin pergerakan kemerdekaan nasional. ia dipilih sebagi gubernur pertama selebes tahun 1945 dan diangkat menjadi pahlawan nasional 1961.Nus Kandouw adalah tokoh Partai Nasional Indonesia (PNI) sulawesi utara yang kemudian menjadi ketua PNI Minahasa.
Selain Nus Kandouw, karakter john di gemleng oleh Sudan Kirdiat asal Klaten yang tidak lain adalah pamannya. Kirdiat beristrikan TJendana adik Tjimbau, ibunda John.
Kiprah Kirdiat seperti halnya kiprah sederatan panjang nama "Kaum Republikein", amat di kenal di Sulawesi Utara termasuk Gorontalo. Dari Kirdiat-lah Joh mendapat pelajaran dan pendidikan politik.
Sewaktu menginjakan kaki di Gorontalo, pejuang Kirdiat mendirikan sekolah Agama PSII, Meski nama Kirdiat tidak tercantum di Ensiklopedia Indonesia, hal itu tidak berarti kadar patriotismenya tidak istimewa. Heroismenya yang dijalankan secara konsisten tanpa ragu ia "bungkus" dengan "baju" sekolah-sekolah agama yang ia dirikan. Sambil mengajarkan agama Islam, Kirdiat giat menanamkan Nasionalisme ke sanubari muridnya. Hal itu ditempuh sebagi taktikuntuk mengelabui pemerintah Hidia Belanda yang licik dan banyak tipu daya serta punya mata yang banyak di mana-mana.
"Ditimur matahari sudah terbit" adalah kata-kata setelah kekalahan armada Rusia yang dihancurkan Admiral Heihachiro Togo di teluk Tsutsima Jepang pada perang Rusia-Jepang 1904-1905, menggugah keyakinan Kirdiat bahwa sekali waktu Indonesia akan bangkit dan melepaskan diri dari belenggu penjajahan belanda.
Jika sikap terjang perjuangan Kirdiat di ibaratkan Emas, sepak terjang Tjendana layak diibaratkan Berlian. Perempuan cantik berkulit kuning langsat itu yang tangguh karena kepemimpinannya yang memikat, dipercaya menjadi ketua Perempuan Jong Islamten Bond di Gorontalo.
Tjendana bahkan dikenal sebagai singa betina podium. Pidato-pidatinya yang sering membuat panas telinga Belanda dan hal itu pula yang membawanya ke penjara kolonial.
Mawar memang tidak bisa menyembunyikan keharumannya, sepak terjang Kirdiat yang tidak melemah karena istrinya di jebloskan ke penjara kolonial, lama-lama tercium NICA yang akan kembali berkuasa di Indonesia setelah kekalahan Jepang pada perang dunia II. NICA merupakan "Baju baru" pemerintah Hindia Belanda yang telah musnah menyusul penyerahan tanpa syarat kepada tentara Jepang pada 9 Maret 1942. "Baju baru" tersebut menampakan diri bersamaan dengan Perang Pasifik yang dimenangkan sekutu.
Kirdiat, tak ayal ditangkap sambil disiksa bahkan dipaksa makan benderah merah putih, penderitaan paman John ini harus berakhir tragis, Kirdiatt meninggal di penjara Makassar. John dan Ismat yang sedang belajar di Makassar mengurus jenazah pamannya hingga ke proses pemakaman.
**********************************************************************
Terus terang ana menulis tulisan ini harus menitikan air mata karena ana inget saat-saat ayah ana (Anas Kirdiat) sempat meminta dituliskan biografi tentang Sudan Kirdiat yang beliau tulis sendiri dengan tangannya dan ana hanya mengetikan tulisan tangan itu ke dalam format komputer. Aku Harap beliau bangga kalau sekelumit tulisannya bisa ana tampilkan di blog yang kecil ini. Dari dulu beliau juga tidak punya keinginan agar kakek bisa di angkat jadi Pahlawan Nasional. Beliau hanya ingin kisah ini bisa dibaca dan diambil hikmahnya kepada semua keturunannya. Pesan beliau yang tidak akan ku lupa adalah "Kita emang miskin tapi kita bukan dari keluarga pencuri"..."Kita boleh miskin... tapi kita tidak boleh meminta-minta"...
The next generation of KIRDIAT
ini dia sekelumit cerita itu..... Berguru kepada pahlawan tak dikenal
Dari kela 0 sampai kelas 4, john bersekolah di Room Christelijke School, Poso. Kepala sekola saat itu adalah Mynheer Hoefman yang kemudian digantikan Silalahi. Guru-gurunya kebanyakan dari Ambon dan Menado, denagan kehidupan yang sangat harmonis. Jarak rumah ke sekolah dekat dan ditempuh dengan jalan kaki.
Pada usia 10 tahun john pindah ke sekolah HIS Gorontalo, di kelas 5 john mulai membaca majalah politik Nationale commentaren. DR, G.S.S.J (Sam) Ratu langie (1891-1949), kawan dekat Nus Kandouw, Pernah menjadi redaktur majalah tersebut selama 4 tahun. DR.Ratu langie, Ahli ilmu pasti,orang indonesia pertama yang mendapat gelar Doktor di bidang matematika. Yang juga di kenal sebagai pemimpin pergerakan kemerdekaan nasional. ia dipilih sebagi gubernur pertama selebes tahun 1945 dan diangkat menjadi pahlawan nasional 1961.Nus Kandouw adalah tokoh Partai Nasional Indonesia (PNI) sulawesi utara yang kemudian menjadi ketua PNI Minahasa.
Selain Nus Kandouw, karakter john di gemleng oleh Sudan Kirdiat asal Klaten yang tidak lain adalah pamannya. Kirdiat beristrikan TJendana adik Tjimbau, ibunda John.
Kiprah Kirdiat seperti halnya kiprah sederatan panjang nama "Kaum Republikein", amat di kenal di Sulawesi Utara termasuk Gorontalo. Dari Kirdiat-lah Joh mendapat pelajaran dan pendidikan politik.
Sewaktu menginjakan kaki di Gorontalo, pejuang Kirdiat mendirikan sekolah Agama PSII, Meski nama Kirdiat tidak tercantum di Ensiklopedia Indonesia, hal itu tidak berarti kadar patriotismenya tidak istimewa. Heroismenya yang dijalankan secara konsisten tanpa ragu ia "bungkus" dengan "baju" sekolah-sekolah agama yang ia dirikan. Sambil mengajarkan agama Islam, Kirdiat giat menanamkan Nasionalisme ke sanubari muridnya. Hal itu ditempuh sebagi taktikuntuk mengelabui pemerintah Hidia Belanda yang licik dan banyak tipu daya serta punya mata yang banyak di mana-mana.
"Ditimur matahari sudah terbit" adalah kata-kata setelah kekalahan armada Rusia yang dihancurkan Admiral Heihachiro Togo di teluk Tsutsima Jepang pada perang Rusia-Jepang 1904-1905, menggugah keyakinan Kirdiat bahwa sekali waktu Indonesia akan bangkit dan melepaskan diri dari belenggu penjajahan belanda.
Jika sikap terjang perjuangan Kirdiat di ibaratkan Emas, sepak terjang Tjendana layak diibaratkan Berlian. Perempuan cantik berkulit kuning langsat itu yang tangguh karena kepemimpinannya yang memikat, dipercaya menjadi ketua Perempuan Jong Islamten Bond di Gorontalo.
Tjendana bahkan dikenal sebagai singa betina podium. Pidato-pidatinya yang sering membuat panas telinga Belanda dan hal itu pula yang membawanya ke penjara kolonial.
Mawar memang tidak bisa menyembunyikan keharumannya, sepak terjang Kirdiat yang tidak melemah karena istrinya di jebloskan ke penjara kolonial, lama-lama tercium NICA yang akan kembali berkuasa di Indonesia setelah kekalahan Jepang pada perang dunia II. NICA merupakan "Baju baru" pemerintah Hindia Belanda yang telah musnah menyusul penyerahan tanpa syarat kepada tentara Jepang pada 9 Maret 1942. "Baju baru" tersebut menampakan diri bersamaan dengan Perang Pasifik yang dimenangkan sekutu.
Kirdiat, tak ayal ditangkap sambil disiksa bahkan dipaksa makan benderah merah putih, penderitaan paman John ini harus berakhir tragis, Kirdiatt meninggal di penjara Makassar. John dan Ismat yang sedang belajar di Makassar mengurus jenazah pamannya hingga ke proses pemakaman.
**********************************************************************
Terus terang ana menulis tulisan ini harus menitikan air mata karena ana inget saat-saat ayah ana (Anas Kirdiat) sempat meminta dituliskan biografi tentang Sudan Kirdiat yang beliau tulis sendiri dengan tangannya dan ana hanya mengetikan tulisan tangan itu ke dalam format komputer. Aku Harap beliau bangga kalau sekelumit tulisannya bisa ana tampilkan di blog yang kecil ini. Dari dulu beliau juga tidak punya keinginan agar kakek bisa di angkat jadi Pahlawan Nasional. Beliau hanya ingin kisah ini bisa dibaca dan diambil hikmahnya kepada semua keturunannya. Pesan beliau yang tidak akan ku lupa adalah "Kita emang miskin tapi kita bukan dari keluarga pencuri"..."Kita boleh miskin... tapi kita tidak boleh meminta-minta"...
Senin, 09 September 2013
27.5% keluarga saudi menyukai pembantu dari indonesia...
RIYADH - Sebuah studi yang dilakukan oleh King Abdulaziz Center for National Dialogue (KACND) telah mengungkapkan bahwa 27,5 persen dari keluarga Saudi lebih memilih pembantu Indonesia, sementara 17,3 persen memilih Filipina. Penelitian ini berdasarkan temuan pada survei terhadap 1.000 keluarga. Hal ini dilakukan oleh KACND sebagai merupakan penelitian eksperimental tentang peran pembantu di masyarakat Saudi.
Penelitian, yang mana akan menjadi dasar keilmuan di masa mendatang tentang permasalahan sosial lainnya, dan juga mengindikasikan bahwa keluarga Saudi tidak yakin akan kemampuan pelayan tersebut telah menerima pelatihan yang tepat. Sekitar 69 persen dari keluarga percaya bahwa pelayan baru direkrut tidak menerima pelatihan yang tepat, sementara 18 persen merasa puas dengan pelatihan pra-kerja yang diberikan kepada pelayan.
Tujuh puluh enam persen dari peserta sepakat bahwa pelayan memiliki pengaruh pada perilaku anak sponsor mereka. Sekitar 70 persen percaya bahwa telah terjadi peningkatan jumlah pembantu rumah tangga di Saudi.
Sekitar 46 persen dari responden percaya bahwa ini adalah karena peningkatan jumlah perempuan yang bekerja yang membutuhkan pembantu untuk membantu dalam pekerjaan rumah mereka, sementara 23 persen percaya bahwa itu karena bertambahnya jumlah keluarga.
Empat puluh dua persen responden tidak memiliki pendapat tentang perusahaan rekrutmen yang baru terbentuk, karena tidak ada cukup informasi yang tersedia bagi mereka.
Soal keterlambatan pembayaran upah dan syarat kerja lainnya, 57 persen responden mengatakan bahwa mereka membayar gaji pelayan mereka tepat waktu, dan 31 persen mengakui bahwa beberapa pelayan adalah kehilangan mingguan hari libur.
Sumber :http://www.saudigazette.com.sa/index.cfm?method=home.regcon&contentid=20130821177624
Senin, 07 Januari 2013
Kisah Inspiratif Wanita dan Pengemis
Suatu hari, sepasang suami istri sedang makan di rumahnya. Tiba-tiba pintu rumahnya diketuk seorang pengemis. Melihat keadaan si pengemis itu, si istri merasa terharu dan bermaksud memberikan sesuatu.
Tetapi sebagai seorang wanita baik dan patuh pada suaminya, ia meminta izin terlebih dahulu, "Suamiku, bolehkah aku memberi makanan kepada pengemis itu?"
Rupanya sang suami memiliki karakter yang berbeda dgn wanita ini. Dgn suara lantang dan kasar, ia menjawab, "Jangan! Usir saja, dan tutup pintu!"
Wanita berhati baik ini terpaksa tidak memberikan apa-apa kepada si pengemis tadi. Seiring berjalannya waktu, lelaki ini bangkrut, kekayaannya habis, dan ia menanggung banyak hutang. Selain itu, karena ketidak bersesuaian sifat dengan istrinya, rumah tangganya tidak aman dan diakhiri dengan perceraian.
Beberapa tahun kemudian bekas istri lelaki bangkrut itu menikah lagi dengan seorang saudagar di kota dan hidup berbahagia. Pada suatu hari, ketika wanita itu sedang makan dengan suami barunya, tiba-tiba ia mendengar pintu rumahnya diketuk orang. Setelah pintu dibuka ternyata tamu tak diundang itu adalah pengemis yang keadaanya membuat hati wanita tadi terharu. Ia pun berkata kepada suaminya, "Suamiku, bolehkah aku memberikan sesuatu kepada pengemis ini?"
"Ya, beri pengemis itu makan sayang!"
Setelah memberi makanan kepada pengemis itu, istrinya masuk ke dalam rumah sambil menangis. Dengan rasa heran suaminya bertanya, "Mengapa kau menangis? Apakah karna aku menyuruhmu memberikan daging ayam kepada pengemis itu?"
Wanita itu menggeleng lemah, lalu berkata dengan sedih, "suamiku, aku sedih dengan perjalanan takdir yang sungguh menakjubkan. Tahukah engkau siapa pengemis yang ada di luar itu? Dia adalah suamiku yang pertama."
Mendengar keterangan ini, sang suami sedikit terkejut, tapi segera balik bertanya, "Taukah kau siapakah aku yang kini menjadi suamimu ini? Aku adalah pengemis yang dulu diusirnya!?"
Tanamlah banyak kebaikan selagi ada kesempatan agar berbuah manis pada suatu hari...
siapapun penulisnya...thanks (dari berbagai sumber)
Tetapi sebagai seorang wanita baik dan patuh pada suaminya, ia meminta izin terlebih dahulu, "Suamiku, bolehkah aku memberi makanan kepada pengemis itu?"
Rupanya sang suami memiliki karakter yang berbeda dgn wanita ini. Dgn suara lantang dan kasar, ia menjawab, "Jangan! Usir saja, dan tutup pintu!"
Wanita berhati baik ini terpaksa tidak memberikan apa-apa kepada si pengemis tadi. Seiring berjalannya waktu, lelaki ini bangkrut, kekayaannya habis, dan ia menanggung banyak hutang. Selain itu, karena ketidak bersesuaian sifat dengan istrinya, rumah tangganya tidak aman dan diakhiri dengan perceraian.
Beberapa tahun kemudian bekas istri lelaki bangkrut itu menikah lagi dengan seorang saudagar di kota dan hidup berbahagia. Pada suatu hari, ketika wanita itu sedang makan dengan suami barunya, tiba-tiba ia mendengar pintu rumahnya diketuk orang. Setelah pintu dibuka ternyata tamu tak diundang itu adalah pengemis yang keadaanya membuat hati wanita tadi terharu. Ia pun berkata kepada suaminya, "Suamiku, bolehkah aku memberikan sesuatu kepada pengemis ini?"
"Ya, beri pengemis itu makan sayang!"
Setelah memberi makanan kepada pengemis itu, istrinya masuk ke dalam rumah sambil menangis. Dengan rasa heran suaminya bertanya, "Mengapa kau menangis? Apakah karna aku menyuruhmu memberikan daging ayam kepada pengemis itu?"
Wanita itu menggeleng lemah, lalu berkata dengan sedih, "suamiku, aku sedih dengan perjalanan takdir yang sungguh menakjubkan. Tahukah engkau siapa pengemis yang ada di luar itu? Dia adalah suamiku yang pertama."
Mendengar keterangan ini, sang suami sedikit terkejut, tapi segera balik bertanya, "Taukah kau siapakah aku yang kini menjadi suamimu ini? Aku adalah pengemis yang dulu diusirnya!?"
Tanamlah banyak kebaikan selagi ada kesempatan agar berbuah manis pada suatu hari...
siapapun penulisnya...thanks (dari berbagai sumber)
Kamis, 09 Agustus 2012
Kisah yang baik untuk di renungkan
Terus terang saya ga tau kebenaran cerita ini, ini kisah nyata atau hanya fiksi belaka? wallahu'alam. bahkan saya juga ga tau siapa yang pertama kali menulisnya di dunia maya. yang saya tahu cuma satu yaitu suatu hari salah satu teman saya nge"forward" email ke saya dan temen-temen lainya, bagi saya pribadi..cerita ini cukup menyentil sanubari saya dan saya anggap sangat pantas untuk di share ke teman-teman yang lain. semoga bisa di ambil pelajaran dari kisah yang isinya sebagai berikut:
"Karena hujan yg tidak kunjung berhenti, akhirnya saya memutuskan menerobos hujan, karena hari sudah malam...
Dan sampai di Cikini, perut udah ga bisa diajak kompromi, akhirnya saya memutuskan mampir di warung nasi tenda dipinggir jalan..
lagi asik asiknya menikmati pecel lele, masuklah seorang bapak, dg istri & 2 anaknya..
Yg menarik adalah kendaraan mereka adalah gerobak dorong..
Lalu bapak ini memesan 2 piring nasi & ayam goreng utk istri & anaknya.
Pertamanya sih ga ada yg menarik, tetapi ketika saya selesai makan, ada yg menarik hati saya..Ternyata, yg menikmati makanan itu hanya istri dan anaknya. Sedangkan sang bapak hanya melihat istri & anaknya menikmati makanan ini.
Sesekali saya melihat anak ini tertawa senang sekali,& sangat menikmati ayam goreng yg dipesan oleh bapaknya..
Saya perhatikan, wajah sang bapak, walau tampak kelelahan terlihat senyum bahagia di wajahnya..
Lalu saya mendengar dia berkata..
" makan yg puas Nak, toh..hari ini tanggal kelahiranmu.."
Saya terharu mendengarnya..Langsung terenyuh hati ini.
seorang bapak, dgn keterbatasannya, sebagai (mungkin) pemulung.. memberi ayam goreng warung tenda dipinggir jalan , untuk hadiah anaknya..
Hampir mau menangis rasanya saya diwarung itu..
Segera sebelum air mata ini tumpah, saya berdiri,& membayar makanan saya,& juga dengan pelan pelan saya bilang sama penjaga warung...
"mas, tagihan bapak itu, saya yg bayar..dan tolong tambahin ayam goreng dan tahu tempe" Lalu lekas lekas saya pergi.
kisah ini kutulis, untuk bahan perenungan.. Bahwa Tuhan sudah memberikan yg terbaik untuk saya saat ini..., kita biasa makan di Sushi-Tei, Kentucky, Mc Donald, Hoka Hoka Bento, Pizza Hut dsb...
Tetapi bagi org disekitar kita, pecel lele dipinggir jalan, adalah makanan mewah buat dia....
Sungguh tak pantas bagi saya untuk mengeluh ...
Rasa syukur akan mengantarkan rasa bahagia ..."
Dari seorang teman,
Kamis, 14 Juni 2012
Langkah-langkah Upgrade iOS 5
Langkah-langkah Upgrade iOS 5
Bete juga setiap kali saya mau download applikasi di iPhone dan iPad yang kita miliki selalu di beri pemberitahuan kalo applikasi ini hanya untuk iOS 5. Yang pada akhirnya seperti biasa saya selalu minta bantuan mbah google dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya maka surfing saya berlabuh di website "http://seputariphone.com/2011/10/14/bagaimana-cara-upgrade-ios-5/" yang cukup simple tapi detail menceritakan tahap-tahap mengupgrade iPhone dan iPad ke iOS 5.
Dan inilah cuplikan ceritanya dari bang Roman Lekas :
Sebelumnya perlu saya jelaskan terlebih dahulu bahwa untuk melakukan upgrade iOS 5 Anda dapat melakukannya dengan dua cara. Cara pertama adalah melalui Over The Air (OTA) yang artinya Anda melakukan upgrade melalui iPhone yang terkoneksi dengan internet secara langsung. Ada sedikit sisi negatif yang perlu Anda ketahui jika memilih untuk melakukan cara upgrade ini. File iOS baru biasanya memiliki ukuran lebih dari 600 Mb. Anda harus memiliki koneksi internet yang stabil untuk memastikan bahwa file sebesar itu dapat diunduh tanpa terputus di tengah jalan. Cara lain yang dapat Anda lakukan adalah dengan mengunduh terlebih dahulu file iOS baru tersebut dan melakukan upgrade iOS secara offline.
Langkah-langkah upgrade iOS 5 yang saya jelaskan disini mengasumsikan bahwa Anda menggunakan cara kedua dalam melakukan upgrade dan file iOS 5 tersebut telah Anda unduh seutuhnya.
1. Jalankan iTunes dan hubungkan iPhone Anda. Pastikan Anda terhubung ke internet melalui Wi-Fi atau modem karena upgrade iOS memerlukan verifikasi ke iTunes. Pilih iPhone Anda sehingga muncul tombol “Restore”. Sambil menahan tombol Shift pada keyboard, klik kiri tombol “Restore” tersebut. Nanti akan muncul file explorer dimana Anda dapat memilih file iOS 5 yang sudah Anda unduh sebelumnya. Pilih file iOS 5-nya dan tekan “Open”. Tunggu beberapa menit karena proses upgrade iOS 5 membutuhkan kira-kira 5-10 menit untuk selesai.
2. Jika proses upgrade telah selesai maka akan muncul tampilan seperti pada gambar di bawah. Tekan “Continue”.
3. Pada layar berikutnya Anda akan diminta untuk memasukkan Apple ID. Bagi Anda yang sudah memiliki Apple ID maka lanjutkan dengan menekan “Sign In With Apple ID”, jika belum maka Anda dapat membuat akun baru dengan menekan “Create A Free Apple ID”. Saya asumsikan disini bahwa para pembaca telah memiliki akun Apple sendiri (di awal pembelian iPhone untuk proses aktivasi akun Apple ID ini juga diperlukan).
4. Masukkan Username dan Password akun Apple ID Anda & Tunggu beberapa saat.
5. Pada layar akan muncul “Terms and Conditions”. Tekan “Agree” untuk melanjutkan.
6. Pada layar pop-up tekan “Agree”.
7. Anda akan diminta untuk sabar menunggu beberapa saat untuk menyiapkan beberapa hal yang dibutuhkan untuk akun iCloud Anda.
8. Pada layar selanjutnya Anda akan diminta untuk memilih apakah akan menggunakan fitur iCloud atau tidak. Jika Anda telah mengerti tentang layanan iCloud tersebut maka Anda dapat menekan “Use iCloud”, namun jika belum merasa perlu untuk menggunakan fitur ini maka pilihlah “Don’t Use iCloud”. Disini saya memilih untuk tidak menggunakan iCloud. Jangan khawatir konfigurasi fasilitas iCloud dapat diubah kapan saja melalui menu Settings > iCloud.
9. Pada layar berikutnya Anda akan ditanya apakah akan menggunakan iCloud sebagai backup dari iPhone Anda atau tidak. Bagi Anda yang ingin menyimpan backup Anda di “awang-awang” maka pilihlah “Back Up to iCloud”. Hal ini butuh pemahaman dari Anda bahwa jika opsi tersebut Anda pilih maka setiap kali melakukan backup Anda harus memastikan bahwa iPhone Anda terkoneksi ke internet via Wi-Fi. Saya rasa untuk backup iPhone lebih aman jika dilakukan pada komputer Anda sendiri. Lain cerita jika Anda orangnya suka berpindah-pindah atau mobile sehingga butuh satu tempat penyimpanan yang dapat diakses di mana saja dan kapan saja maka iCloud adalah jawaban untuk Anda. Untuk saat ini saya memilih “Back Up to My Computer”.
10. Fitur “Find My iPhone” sangat penting jika suatu saat Anda kehilangan iPhone tersebut dan ingin melacak keberadaannya. Jadi tinggal gunakan fitur ini Anda dapat menemukan lokasi iPhone Anda yang hilang dan juga dapat me-lock iPhone Anda dari jauh agar tidak dapat digunakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Pilih “Use Find My iPhone”.
11. “Diagnostics” mencatat hal-hal seperti penggunaan memori dan diagnosa dari iPhone Anda ke Apple sehingga mereka dapat meningkatkan pelayanannya. Untuk ini saya menyerahkan kepada Anda apakah Anda mengijinkan data-data tersebut diunggah secara berkala ke situs Apple. Saya sendiri memilih “Don’t Send”.
12. Setting iOS 5 telah selesai dan Anda dapat menggunakan iPhone kesayangan Anda dengan iOS terbaru dari Apple.
Ok, bagi Anda yang masih ragu apakah perlu untuk upgrade iOS 5 maka saya anjurkan agar Anda segera melakukannya sebab dari apa yang telah saya lihat iOS ini lebih komplit dalam fitur serta membuat iPhone Anda menjadi lebih hebat.
Kalo ada pertanyaan seputar phone bisa ditanyakan sama ahlinya di
http://seputariphone.com
karena status ane sama kayak ente... masih belajar!
Rabu, 09 Februari 2011
kisah penjual tempe...
Seorang ibu penjual tempe merasa Tuhan tidak mendengar doanya, karena tempe buatannya masih belum jadi. Bukan sekali dua kali dia bikin tempe. Padahal dia harus menjual tempe untuk menafkahi hidupnya.
Di Pasar Lodaya Bandung, hiduplah seorang ibu penjual tempe. Tak ada pekerjaan lain yang dapat dia lakukan sebagai penyambung hidup. Meski demikian, nyaris tak pernah lahir keluhan dari bibirnya. Ia jalani hidup dengan riang. "Jika tempe ini yang nanti mengantarku ke surga, kenapa aku harus menyesalinya. .." demikian dia selalu memaknai hidupnya.
Suatu pagi, setelah salat subuh, dia pun berkemas. Mengambil keranjang bambu tempat tempe, dia berjalan ke dapur. Diambilnya tempe-tempe yang dia letakkan di atas meja panjang. Tapi, deg! dadanya gemuruh.
Tempe yang akan dia jual, ternyata belum jadi. Masih berupa kacang kedelai, sebagian berderai, belum disatukan ikatan-ikatan putih kapas dari peragian. Tempe itu masih harus menunggu satu hari lagi untuk jadi. Tubuhnya lemas. Dia bayangkan, hari ini pasti dia tidak akan mendapatkan uang, untuk makan, dan modal membeli kacang kedelai, yang akan dia olah kembali menjadi tempe.
Di tengah putus asa, terbersit harapan di dadanya. Dia tahu, jika meminta kepada Allah, pasti tak akan ada yang mustahil. Maka, di tengadahkan kepala, dia angkat tangan, dia baca doa. "Ya Allah, Engkau tahu kesulitanku. Aku tahu Engkau pasti menyayangi hamba-Mu yang hina ini. Bantulah aku ya Allah, jadikanlah kedelai ini menjadi tempe. Hanya kepada-Mu kuserahkan nasibku..." Dalam hati, dia yakin, Allah akan mengabulkan doanya.
Dengan tenang, dia tekan dan mampatkan daun pembungkus tempe. Dia rasakan hangat yang menjalari daun itu. Proses peragian memang masih berlangsung.
Dadanya gemuruh. Dan pelan, dia buka daun pembungkus tempe. Dan... dia kecewa. Tempe itu masih belum juga berubah. Kacang kedelainya belum semua menyatu oleh kapas-kapas ragi putih. Tapi, dengan memaksa senyum, dia berdiri. Dia yakin, Allah pasti sedang "memproses" doanya. Dan tempe itu pasti akan jadi.
Dia yakin, Allah tidak akan menyengsarakan hambanya yang setia beribadah seperti dia. Sambil meletakkan semua tempe setengah jadi itu ke dalam keranjang, dia berdoa lagi. "Ya Allah, aku tahu tak pernah ada yang mustahil bagi-Mu. Engkau Maha Tahu, bahwa tak ada yang bisa aku lakukan selain berjualan tempe. Karena itu ya Allah, jadikanlah. Bantulah aku, kabulkan doaku..."
Sebelum mengunci pintu dan berjalan menuju pasar, dia buka lagi daun pembungkus tempe. Pasti telah jadi sekarang, batinnya. Dengan berdebar, dia intip dari daun itu, dan... belum jadi. Kacang kedelai itu belum sepenuhnya memutih. Tak ada perubahan apa pun atas ragian kacang kedelai tersebut. "Keajaiban Tuhan akan datang... pasti," yakinnya.
Dia pun berjalan ke pasar. Di sepanjang perjalanan itu, dia yakin, "tangan" Tuhan tengah bekerja untuk mematangkan proses peragian atas tempe-tempenya. Berkali-kali dia dia memanjatkan doa... berkali-kali dia yakinkan diri, Allah pasti mengabulkan doanya.
Sampai di pasar, di tempat dia biasa berjualan, dia letakkan keranjang-keranjang itu. "Pasti sekarang telah jadi tempe!" batinnya. Dengan berdebar, dia buka daun pembungkus tempe itu, pelan-pelan. Dan... dia terlonjak. Tempe itu masih tak ada perubahan. Masih sama seperti ketika pertama kali dia buka di dapur tadi.
Kecewa, airmata menitiki keriput pipinya. Kenapa doaku tidak dikabulkan? Kenapa tempe ini tidak jadi? Kenapa Tuhan begitu tidak adil? Apakah Dia ingin aku menderita? Apa salahku? Demikian batinnya berkecamuk.
Dengan lemas, dia gelar tempe-tempe setengah jadi itu di atas plastik yang telah dia sediakan. Tangannya lemas, tak ada keyakinan akan ada yang mau membeli tempenya itu. Dan dia tiba-tiba merasa lapar... merasa sendirian. Tuhan telah meninggalkan aku, batinnya.
Airmatanya kian menitik. Terbayang esok dia tak dapat berjualan... esok dia pun tak akan dapat makan. Dilihatnya kesibukan pasar, orang yang lalu lalang, dan "teman-temannya" sesama penjual tempe di sisi kanan dagangannya yang mulai berkemas. Dianggukinya mereka yang pamit, karena tempenya telah laku. Kesedihannya mulai memuncak. Diingatnya, tak pernah dia mengalami kejadian ini. Tak pernah tempenya tak jadi. Tangisnya kian keras. Dia merasa cobaan itu terasa berat...
Di tengah kesedihan itu, sebuah tepukan menyinggahi pundaknya. Dia memalingkan wajah, seorang perempuan cantik, paro baya, tengah tersenyum, memandangnya. "Maaf Ibu, apa ibu punya tempe yang setengah jadi? Capek saya sejak pagi mencari-cari di pasar ini, tak ada yang menjualnya. Ibu punya?"
Penjual tempe itu bengong. Terkesima. Tiba-tiba wajahnya pucat. Tanpa menjawab pertanyaan si ibu cantik tadi, dia cepat menadahkan tangan. "Ya Allah, saat ini aku tidak ingin tempe itu jadi. Jangan engkau kabulkan doaku yang tadi. Biarkan sajalah tempe itu seperti tadi, jangan jadikan tempe..." Lalu segera dia mengambil tempenya. Tapi, setengah ragu, dia letakkan lagi. "jangan-jangan, sekarang sudah jadi tempe..."
"Bagaimana Bu? Apa ibu menjual tempe setengah jadi?" tanya perempuan itu lagi.
Kepanikan melandanya lagi. "Duh Gusti... bagaimana ini? Tolonglah ya Allah, jangan jadikan tempe ya?" ucapnya berkali-kali. Dan dengan gemetar, dia buka pelan-pelan daun pembungkus tempe itu. Dan apa yang dia lihat, pembaca?? Di balik daun yang hangat itu, dia lihat tempe yang masih sama. Belum jadi! "Alhamdulillah!" pekiknya, tanpa sadar. Segera dia angsurkan tempe itu kepada si pembeli.
Sembari membungkus, dia pun bertanya kepada si ibu cantik itu. "Kok Ibu aneh ya, mencari tempe kok yang belum jadi?"
"Oohh, bukan begitu, Bu. Anak saya, Yuyun , yang tinggal di Australia ingin sekali makan tempe, asli buatan sini. Nah, agar bisa sampai disana belum busuk, saya pun mencari tempe yang belum jadi. Jadi, saat saya bawa besok, sampai sana masih layak dimakan. Oh ya, jadi semuanya berapa, Bu?"
Rekan-rekan, dalam kehidupan sehari-hari, kita acap berdoa, dan"memaksakan" Allah memberikan apa yang menurut kita paling cocok untuk kita. Dan jika doa kita tidak dikabulkan, kita merasa diabaikan, merasa kecewa,padahal Allah Swt paling tahu apa yang paling cocok dan terbaikuntuk kita, bahwa semua rencanaNya adalah yang paling sempurna.
dari posting temen
Sabtu, 25 Desember 2010
Seputar Zamzam..
Bagi umat islam, air zamzam merupakan anugrah yang diberikan Allah SWT untuk umat Nabi Muhammad SAW. Air yang apabila meminumnya dapat mendatangkan banyak manfaat ini tidak pernah habis walau setiap harinya di konsumsi oleh ribuan manusia. coba saja hitung secara kasar, bila selama musim haji datang jutaan ribu manusia ke tanah suci dan setiap orang membawa 5 liters zamzam ke negaranya masing-masing. belum lagi yang dikonsumsi oleh jemaah haji selama mukim di tanah suci dan belum lagi yang hadir setiap hari untuk menjalankan umroh. Masya Allah Tabrakallah.
Kebersihan dan distribusi air Zamzam di Mekah diperkirakan akan lebih terjamin. Ini terjadi setelah Pemerintah Arab Saudi meresmikan proyek terbaru tentang air Zamzam. Air dari sumur kuno Zamzam akan disimpan dalam tong khusus dan kemudian dipompa ke Masjidil Haram di kota suci umat Islam itu.
Menteri Air dan Listrik Abdullah bin Abdul Rahman Al Hussayen mengatakan, tangki khusus itu akan menampung 10 juta liter air dan akan disalurkan melalui empat pipa baja anti karat. Al Hussayen mengatakan, dua juta liter di antaranya akan disalurkan setiap hari ke satu pabrik terdekat untuk dikemas.
Penguasa Kerajaaan Arab, Raja Abdullah Bin Abdulaziz, akan meresmikan proyek perluasan pipa Zamzam senilai 187 juta dolar AS itu untuk memenuhi kebutuhan jamaah haji. Al Hussayen juga mengatakan, air Zamzam yang tersimpan akan disalurkan ke 42 tempat khusus. Para jamaah bisa mendapatkan 10 liter Zamzam dalam kemasan di tempat-tempat itu dengan memasukkan koin di mesin yang disediakan. “Proyek ini selesai dalam waktu 30 bulan dan ditujukan pula untuk memperbaiki sistem distribusi Zamzam di dalam Masjidil Haram,” jelasnya.
Sumur Zamzam diyakini tercipta berkat mukjizat melalui Siti Hajar, istri Nabi Ibrahim yang mencari air di gurun pasir untuk bayinya, Ismail. Pencarian Siti Hajar berakhir setelah air secara tiba-tiba keluar dari sela-sela kaki Ismail yang kemudian menjadi sumur Zamzam.
Jutaan umat Islam yang melakukan ibadah umroh dan haji setiap tahun membawa air Zamzam ke negara masing-masing setelah ibadah berakhir. (Endro Yuwanto/ap/bbc/RoL)
Senin, 16 Agustus 2010
Kutitip surat ini untukmu..
Bismillaahirrahmaanirrahiim

Disalin ulang dari buku 'Kutitip Surat Ini Untukmu..' karya alUstadz Armen Halim Naro -rahimahullah-.
Terbitan Nadwah Publishing - Pekanbaru.
Kutitip surat ini, anakku!
Ananda yang kusayangi, di bumi Allah Ta'ala..
Segala puji Ibu panjatkan ke hadirat Allah yang telah memudahkan Ibu untuk beribadah kepada-Nya. Shalawat serta salam Ibu sampaikan kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, keluarga dan para sahabatnya. Amiin..
Wahai anakku,
Surat ini datang dari ibumu yang selalu dirundung sengsara.. Setelah berpikir panjang Ibu mencoba untuk menulis dan menggoreskan pena, sekalipun keraguan dan rasa malu menyelimuti diri. Setiap kali menulis, setiap itu pula goresan tulisan terhalangi oleh tangis, dan setiap kali menitikkan air mata setiap itu pula hati terluka..
Wahai anakku,
Sepanjang masa yang telah engkau lewati, kulihat engkau telah menjadi laki-laki dewasa, laki-laki yang cerdas dan bijak! Karenanya engkau pantas membaca tulisan ini, sekalipun nantinya engkau remas kertas ini lalu engkau merobeknya, sebagaimana sebelumnya engkau telah remas hatiku dan telah engkau robek pula perasaanku.
Wahai anakku,
25 tahun telah berlalu, dan tahun-tahun itu merupakan tahun kebahagiaan dalam kehidupanku. Suatu ketika dokter datang menyampaikan tentang kehamilanku dan semua ibu sangat mengetahui arti kalimat tersebut. Bercampur rasa gembira dan bahagia dalam diri ini sebagaimana ia adalah awal mula dari perubahan fisik dan emosi. Semenjak kabar gembira tersebut aku membawamu 9 bulan, tidur, berdiri, makan dan bernafas dalam kesulitan. Akan tetapi itu semua tidak mengurangi cinta dan kasih sayangku kepadamu, bahkan ia tumbuh bersama berjalannya waktu.
Aku mengandungmu, wahai anakku! Pada kondisi lemah di atas lemah, bersamaan dengan itu aku begitu gembira tatkala merasakan tendangan kakimu atau geliat badanmu dalam perutku. Aku merasa puas setiap aku menimbang diriku, karena semakin hari semakin bertambah berat perutku, berarti semakin sengkau sehat wal afiat dalam rahimku.
Penderitaan yang berkepanjangan menderaku, sampailah saat itu, ketika fajar pada malam itu, yang aku tidak dapat tidur dan memejamkan mataku barang sekejap pun. Aku merasakan sakit yang tidak tertahankan dan rasa takut yang tidak bisa dilukiskan.
Sakit itu terus berlanjut sehingga membuatku tidak lagi dapat menangis. Sebanyak itu pula aku melihat kematian menari-nari dipelupuk mataku, hingga tibalah waktunya engkau keluar kedunia.
Engkaupun lahir.. Tangisku bercampur dengan tangismu, air mata kebahagiaan senantiasa menetes dalam keharuan dan kebahagiaan. Dengan itu semua, sirna semua keletihan dan kesedihan, hilang semua sakit dan penderitaan, bahkan kasihku kepadamu semakin bertambah dengan bertambah kuatnya rasa sakit. Aku raih dirimu sebelum aku meraih minuman, aku peluk cium dirimu sebelum meneguk satu tetes air yang ada di kerongkonganku.
Wahai anakku.. Telah berlalu tahun dari usiamu. Aku membawamu dengan hatiku dan memandikanmu dengan kedua tangan kasih sayangku. Saripati hidupku kuberikan kepadamu. Aku tidak tidur demi tidurmu, berletih demi kebahagiaanmu.
Harapanku pada setiap harinya; agar aku melihat senyumanmu. Kebahagiaanku setiap saat adalah celotehmu dalam meminta sesuatu, agar aku berbuat sesuatu untukmu.. itulah kebahagianku!
Kemudian, berlalulah waktu, hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun. Selama itu pula aku setia menjadi pelayanmu yang tidak pernah lalai, menjadi dayangmu yang tidak pernah berhenti, dan menjadi pekerjamu yang tidak pernah mengenal lelah serta mendoakan selalu kebaikan dan taufiq untukmu. Aku selalu memperhatikan dirimu hari demi hari hingga engkau menjadi dewasa. Badanmu yang tegap, ototmu yang kekar, kumismu dan jambang tipis telah menghiasi wajahmu, telah menambah ketampananmu. Tatkala itu aku mulai melirik ke kiri dan ke kanan demi mencari pasangan hidupmu.
Semakin dekat hari perkawinanmu, semakin dekat pula hari kepergianmu. Saat itu pula hatiku mulai serasa teriris-iris, air mataku mengalir, entah apa rasanya hati ini. Bahagia telah bercampur dengan duka, tangis telah bercampur pula dengan tawa. Bahagia karena engkau mendapatkan pasangan dan sedih karena engkau pelipur hatiku akan berpisah denganku.
Waktu pun berlalu seakan-akan aku menyeretnya dengan berat. Kiranya setelah perkawinan itu aku tidak lagi mengenal dirimu, senyummu yang selama ini menjadi pelipur duka dalam kesedihan, sekarang telah sirna bagaikan matahari yang ditutupi oleh kegelapan malam. Tawamu yang selama ini kujadikan buluh perindu, sekarang telah tenggelam seperti batu yang dijatuhkan ke dalam kolam yang hening dan dalam, bersama dedaunan yang berguguran. Aku benar-benar tidak mengenalmu lagi karena engkau telah melupakanku dan melupakan hakku.
Terasa lama hari-hari yang kulewati hanya untuk ingin melihat rupamu. Detik demi detik kuhitung demi mendengarkan suaramu. Akan tetapi penantian kurasakan sangat panjang. Aku selalu berdiri di pintu hanya untuk melihat dan menanti kedatanganmu. Setiap kali berderit pintu aku menyangka bahwa engkaulah orang yang datang itu. Setiap kali telepon berdering aku merasa bahwa engkaulah yang menelepon. Setiap suara kendaraan lewat aku merasa bahwa engkaulah yang datang.
Akan tetapi, semua itu tidak ada. Penantianku sia-sia, dan harapanku hancur berkeping, yang ada hanya keputusasaan, yang tersisa hanyalah kesedihan dari semua keletihan yang selama ini kurasakan. Sambil menangisi diri dan nasib yang memang telah ditakdirkan oleh-Nya.
Anakku.. Ibumu ini tidaklah meminta banyak, dan tidaklah menagih kepadamu yang bukan-bukan. Yang ibu pinta, jadikan ibumu sebagai sahabat dalam kehidupanmu. Jadikanlah ibumu yang malang ini sebagai pembantu di rumahmu, agar senantiasa dapat menatap wajahmu, agar ibu teringat pula dengan hari-hari bahagia masa kecilmu.
Yang ibu tagih kepadamu, jadikanlah rumah ibumu, salah satu tempat persinggahanmu, agar engkau dapat pula sekali-kali singgah ke sana sekalipun hanya satu detik, jangan jadikan ia sebagai tempat sampah yang tidak pernah engkau kunjungi, atau sekiranya terpaksa engkau datangi sambil engkau tutup hidungmu dan engkau pun berlalu pergi.
Anakku, telah bungkuk pula punggungku. Bergemetar tanganku, karena badanku telah dimakan oleh usia dan digerogoti oleh penyakit.. Berdiri seharusnya dipapah, duduk pun seharusnya dibopong, sekalipun begitu cintaku kepadamu masih seperti dulu.. Masih seperti lautan yang tidak pernah kering. Masih seperti angin yang tidak pernah berhenti.
Sekiranya engkau dimuliakan satu hari saja oleh seseorang, niscaya engkau akan balas kebaikannya dengan kebaikan setimpal. Sedangkan kepada ibumu.. Mana balas budimu nak? Mana balasan baikmu?! Bukankah air susu seharusnya dibalas dengan air susu serupa?! Akan tetapi kenapa nak? Susu yang ibu berikan engkau balas dengan tuba?! Bukankah Alla Ta'ala berfirman;
"Bukankah balasan kebaikan kecuali dengan kebaikan pula?" [QS. arRahman:60]
Sampai begitu keraskah hatimu, dan sudah begitu jauhkah dirimu setelah berlalunya hari dan berselangnya waktu?!
Wahai anakku, setiap kali aku mendengar bahwa engkau bahagia dengan hidupmu, setiap itu pula bertambah kebahagiaanku. Bagaimana tidak, engkau adalah buah dari kedua tanganku, engkaulah hasil keletihanku, engkaulah laba dari semua usahaku! Kiranya dosa apa yang telah kuperbuat sehingga engkau jadikan diriku musuh bebuyutanmu? Pernahkah aku berbuat khilaf dalam salah satu waktu selama bergaul denganmu, atau pernahkan aku berbuat lalai dalam melayanimu?
Lalu, jika tidak demikian, sulitkah bagimu menjadikan statusku sebagai budak dan pembantu yang paling hina dari sekian banyak pembantu dan budakmu. Mereka semua telah mendapatkan upahnya, lalu mana upah yang layak untukku, wahai anakku?
Dapatkah engkau berikan sedikit perlindungan kepadaku di bawah naungan kebesaranmu? Dapatkah engkau menganugerahkan sedikit kasih sayangmu demi mengobati derita orang tua yang malang ini? Sedangkan Allah Ta'ala mencintai orang yang berbuat baik.
Wahai anakku! Aku hanya ingin melihat wajahmu, dan aku tidak ingin menginginkan yang lain.
Wahai anakku! Hatiku teriris, air mataku mengalir, sedangkan engkau sehat wal afiat. Orang sering mengatakan bahwa engkau seorang laki-laki yang supel, dermawan dan berbudi. Anakku.. tidak tersentuhkah hatimu terhadap seorang wanita tua yang lemah, tidak terenyuhkah jiwamu melihat orang tua yang telah renta ini, ia binasa dimakan rindu, berselimutkan kesedihan dan berpakaian kedukaan?! Bukan karena apa-apa! Akan tetapi hanya karena engkau telah berhasil mengeluarkan air matanya.. Hanya karena engkau telah membalasnya dengan dengan luka di hatinya.. Hanya karena engkau telah pandai menikam dirinya dengan belati durhakamu tepat menghujam jantungya.. Hanya karena engkau telah berhasil pula memutuskan tali silaturrahum?!
Wahai anakku, Ibumu inilah sebenarnya pintu surga bagimu. Maka titilah jembatan itu menujunya, lewatilah jalannya dengan senyuman yang manis, pemaafan dan balas budi yang baik. Semoga aku bertemu denganmu di sana dengan kasih sayang Allah Ta'ala, sebagaimana Rasulullah telah sabdakan:
"Orang tua adalah pintu Surga yang di tengah, sekiranya engkau mau, sia-siakanlah pintu itu atau jagalah!" [HR. Ahmad]
Anakku, aku sangat mengenalmu, tahu sifat dan akhlakmu. Semenjak engkau beranjak dewasa saat itu pula tamak dan labamu kepada pahala dan Surga begitu tinggi. Engkau selalu bercerita tentang keutamaan berjamaah dan shaf pertama. Engkau selalu berniat untuk berinfak dan bersedekah.
Akan tetapi, anakku! Mungkin ada satu hadits yang terlupakan olehmu! Satu keutamaan besar yang terlalaikan olehmu, yaitu bahwa Nabi yang mulia shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu'anhu berkata: 'Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, 'Wahai Rasulullah, amal apa yang paling mulia?' Beliau berkata: 'Shalat pada waktunya', aku berkata: 'Kemudian apa, wahai Rasulullah?' Beliau berkata: 'Berbakti kepada orang tua', aku berkata: 'Kemudian apa, wahai Rasulullah!', Beliau menjawab, 'Jihad di jalan Allah', lalu beliau diam. Sekiranya aku bertanya lagi, niscaya beliau akan menjawabnya," [HR. Bukhari, Muslim dan Ahmad]
Wahai anakku! Ini aku, pahalamu, tanpa engkau perlu bersusah payah untuk memerdekakan budak atau untuk berletih dalam berinfak.
Pernahkah engkau mendengar cerita seorang ayah yang telah meninggalkan keluarga dan anak-anaknya dan berangkat jauh dari negerinya untuk mencari tambang emas?! Setelah tiga puluh tahun dalam perantauan, kiranya yang ia bawa pulang hanya tangan hampa dan kegagalan. Dia telah gagal dalam usahanya. Setibanya di rumah, orang tersebut tidak lagi melihat gubuk reotnya, tetapi yang dilihatnya sebuah perusahaan tambang emas yang besar. Berletih mencari emas di negeri orang kiranya, di sebelah gubuk reotnya orang mendirikan tambang emas.
Begitulah perumpamaanmu dengan kebaikan. Engkau berletih mencari pahala, engkau telah beramal banyak, tapi engkau telah lupa bahwa di dekatmu ada pahala yang maha besar. Di sampingmu ada orang yang dapat menghalangi atau mempercepat amalmu. Bukankah ridhoku adalah keridhoan Allah, dan murkaku adalah kemurkaanNya jua?
Anakku, yang aku cemaskan terhadapmu, yang aku takutkan bahwa jangan-jangan engkaulah yang dimaksudkan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dalam sabdanya:
"Merugilah seseorang, merugilah seseorang, merugilah seseorang, dikatakan (kepada Rasulullah): 'Siapa dia wahai Rasulullah?', beliau menjawab: 'Orang yang mendapatkan kedua ayah ibunya ketika tua, dan tidak memasukkannnya ke Surga," [HR. Muslim]
Anakku.. Aku tidak angkat keluhan ini ke langit dan aku tidak adukan duka ini kepada Allah, karena sekiranya keluhan ini telah membumbung menembus awan, melewati pintu-pintu langit, maka akan menimpamu kebinasaan dan kesengsaraan yang tidak ada obatnya dan tidak ada tabib yang dapat menyembuhkannya. Aku tidak akan melakukannya, nak! Bagaimana aku akan melakukannya sedangkan engkau adalah jantung hatiku.. Bagaimana ibumu ini kuat menengadahkan tangannya ke langit sedangkau engkau adalah pelipur laraku. Bagaimana ibu tega melihatmu merana terkena doa mustajab, padahal engkau bagiku adalah kebahagiaan hidupkku?
Bangunlah, nak! Uban sudah mulai merambat di kepalamu, akan berlalu masa sehingga engkau akan menjadi tua, dan al-jaza' min jinsil 'amal.. Engkau akan memetik sesuai dengan apa yang engkau tanam.. Aku tidak ingin engkau nantinya menulis surat yang sama kepada anak-anakmu, engkau tulis dengan air matamu sebagaimana aku menulismu dengan air mata itu pula kepadamu.
Wahai anakku, bertakwalah kepada Allah pada ibumu, peganglah kakinya! Sesungguhnya Surga di kakinya. Basuhlah air matanya, balurlah kesedihannya, kencangkan tulang ringkihnya, dan kokohkan badannya yang telah lapuk.
Anakku.. Setelah engkau membaca surat ini, terserah kepadamu! Apakah engkau sadar dan akan kembali atau engkau ingin merobeknya.
Wassalam,
Ibumu.
Disalin ulang dari buku 'Kutitip Surat Ini Untukmu..' karya alUstadz Armen Halim Naro -rahimahullah-.
Terbitan Nadwah Publishing - Pekanbaru.
Kutitip surat ini, anakku!
Ananda yang kusayangi, di bumi Allah Ta'ala..
Segala puji Ibu panjatkan ke hadirat Allah yang telah memudahkan Ibu untuk beribadah kepada-Nya. Shalawat serta salam Ibu sampaikan kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, keluarga dan para sahabatnya. Amiin..
Wahai anakku,
Surat ini datang dari ibumu yang selalu dirundung sengsara.. Setelah berpikir panjang Ibu mencoba untuk menulis dan menggoreskan pena, sekalipun keraguan dan rasa malu menyelimuti diri. Setiap kali menulis, setiap itu pula goresan tulisan terhalangi oleh tangis, dan setiap kali menitikkan air mata setiap itu pula hati terluka..
Wahai anakku,
Sepanjang masa yang telah engkau lewati, kulihat engkau telah menjadi laki-laki dewasa, laki-laki yang cerdas dan bijak! Karenanya engkau pantas membaca tulisan ini, sekalipun nantinya engkau remas kertas ini lalu engkau merobeknya, sebagaimana sebelumnya engkau telah remas hatiku dan telah engkau robek pula perasaanku.
Wahai anakku,
25 tahun telah berlalu, dan tahun-tahun itu merupakan tahun kebahagiaan dalam kehidupanku. Suatu ketika dokter datang menyampaikan tentang kehamilanku dan semua ibu sangat mengetahui arti kalimat tersebut. Bercampur rasa gembira dan bahagia dalam diri ini sebagaimana ia adalah awal mula dari perubahan fisik dan emosi. Semenjak kabar gembira tersebut aku membawamu 9 bulan, tidur, berdiri, makan dan bernafas dalam kesulitan. Akan tetapi itu semua tidak mengurangi cinta dan kasih sayangku kepadamu, bahkan ia tumbuh bersama berjalannya waktu.
Aku mengandungmu, wahai anakku! Pada kondisi lemah di atas lemah, bersamaan dengan itu aku begitu gembira tatkala merasakan tendangan kakimu atau geliat badanmu dalam perutku. Aku merasa puas setiap aku menimbang diriku, karena semakin hari semakin bertambah berat perutku, berarti semakin sengkau sehat wal afiat dalam rahimku.
Penderitaan yang berkepanjangan menderaku, sampailah saat itu, ketika fajar pada malam itu, yang aku tidak dapat tidur dan memejamkan mataku barang sekejap pun. Aku merasakan sakit yang tidak tertahankan dan rasa takut yang tidak bisa dilukiskan.
Sakit itu terus berlanjut sehingga membuatku tidak lagi dapat menangis. Sebanyak itu pula aku melihat kematian menari-nari dipelupuk mataku, hingga tibalah waktunya engkau keluar kedunia.
Engkaupun lahir.. Tangisku bercampur dengan tangismu, air mata kebahagiaan senantiasa menetes dalam keharuan dan kebahagiaan. Dengan itu semua, sirna semua keletihan dan kesedihan, hilang semua sakit dan penderitaan, bahkan kasihku kepadamu semakin bertambah dengan bertambah kuatnya rasa sakit. Aku raih dirimu sebelum aku meraih minuman, aku peluk cium dirimu sebelum meneguk satu tetes air yang ada di kerongkonganku.
Wahai anakku.. Telah berlalu tahun dari usiamu. Aku membawamu dengan hatiku dan memandikanmu dengan kedua tangan kasih sayangku. Saripati hidupku kuberikan kepadamu. Aku tidak tidur demi tidurmu, berletih demi kebahagiaanmu.
Harapanku pada setiap harinya; agar aku melihat senyumanmu. Kebahagiaanku setiap saat adalah celotehmu dalam meminta sesuatu, agar aku berbuat sesuatu untukmu.. itulah kebahagianku!
Kemudian, berlalulah waktu, hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun. Selama itu pula aku setia menjadi pelayanmu yang tidak pernah lalai, menjadi dayangmu yang tidak pernah berhenti, dan menjadi pekerjamu yang tidak pernah mengenal lelah serta mendoakan selalu kebaikan dan taufiq untukmu. Aku selalu memperhatikan dirimu hari demi hari hingga engkau menjadi dewasa. Badanmu yang tegap, ototmu yang kekar, kumismu dan jambang tipis telah menghiasi wajahmu, telah menambah ketampananmu. Tatkala itu aku mulai melirik ke kiri dan ke kanan demi mencari pasangan hidupmu.
Semakin dekat hari perkawinanmu, semakin dekat pula hari kepergianmu. Saat itu pula hatiku mulai serasa teriris-iris, air mataku mengalir, entah apa rasanya hati ini. Bahagia telah bercampur dengan duka, tangis telah bercampur pula dengan tawa. Bahagia karena engkau mendapatkan pasangan dan sedih karena engkau pelipur hatiku akan berpisah denganku.
Waktu pun berlalu seakan-akan aku menyeretnya dengan berat. Kiranya setelah perkawinan itu aku tidak lagi mengenal dirimu, senyummu yang selama ini menjadi pelipur duka dalam kesedihan, sekarang telah sirna bagaikan matahari yang ditutupi oleh kegelapan malam. Tawamu yang selama ini kujadikan buluh perindu, sekarang telah tenggelam seperti batu yang dijatuhkan ke dalam kolam yang hening dan dalam, bersama dedaunan yang berguguran. Aku benar-benar tidak mengenalmu lagi karena engkau telah melupakanku dan melupakan hakku.
Terasa lama hari-hari yang kulewati hanya untuk ingin melihat rupamu. Detik demi detik kuhitung demi mendengarkan suaramu. Akan tetapi penantian kurasakan sangat panjang. Aku selalu berdiri di pintu hanya untuk melihat dan menanti kedatanganmu. Setiap kali berderit pintu aku menyangka bahwa engkaulah orang yang datang itu. Setiap kali telepon berdering aku merasa bahwa engkaulah yang menelepon. Setiap suara kendaraan lewat aku merasa bahwa engkaulah yang datang.
Akan tetapi, semua itu tidak ada. Penantianku sia-sia, dan harapanku hancur berkeping, yang ada hanya keputusasaan, yang tersisa hanyalah kesedihan dari semua keletihan yang selama ini kurasakan. Sambil menangisi diri dan nasib yang memang telah ditakdirkan oleh-Nya.
Anakku.. Ibumu ini tidaklah meminta banyak, dan tidaklah menagih kepadamu yang bukan-bukan. Yang ibu pinta, jadikan ibumu sebagai sahabat dalam kehidupanmu. Jadikanlah ibumu yang malang ini sebagai pembantu di rumahmu, agar senantiasa dapat menatap wajahmu, agar ibu teringat pula dengan hari-hari bahagia masa kecilmu.
Yang ibu tagih kepadamu, jadikanlah rumah ibumu, salah satu tempat persinggahanmu, agar engkau dapat pula sekali-kali singgah ke sana sekalipun hanya satu detik, jangan jadikan ia sebagai tempat sampah yang tidak pernah engkau kunjungi, atau sekiranya terpaksa engkau datangi sambil engkau tutup hidungmu dan engkau pun berlalu pergi.
Anakku, telah bungkuk pula punggungku. Bergemetar tanganku, karena badanku telah dimakan oleh usia dan digerogoti oleh penyakit.. Berdiri seharusnya dipapah, duduk pun seharusnya dibopong, sekalipun begitu cintaku kepadamu masih seperti dulu.. Masih seperti lautan yang tidak pernah kering. Masih seperti angin yang tidak pernah berhenti.
Sekiranya engkau dimuliakan satu hari saja oleh seseorang, niscaya engkau akan balas kebaikannya dengan kebaikan setimpal. Sedangkan kepada ibumu.. Mana balas budimu nak? Mana balasan baikmu?! Bukankah air susu seharusnya dibalas dengan air susu serupa?! Akan tetapi kenapa nak? Susu yang ibu berikan engkau balas dengan tuba?! Bukankah Alla Ta'ala berfirman;
"Bukankah balasan kebaikan kecuali dengan kebaikan pula?" [QS. arRahman:60]
Sampai begitu keraskah hatimu, dan sudah begitu jauhkah dirimu setelah berlalunya hari dan berselangnya waktu?!
Wahai anakku, setiap kali aku mendengar bahwa engkau bahagia dengan hidupmu, setiap itu pula bertambah kebahagiaanku. Bagaimana tidak, engkau adalah buah dari kedua tanganku, engkaulah hasil keletihanku, engkaulah laba dari semua usahaku! Kiranya dosa apa yang telah kuperbuat sehingga engkau jadikan diriku musuh bebuyutanmu? Pernahkah aku berbuat khilaf dalam salah satu waktu selama bergaul denganmu, atau pernahkan aku berbuat lalai dalam melayanimu?
Lalu, jika tidak demikian, sulitkah bagimu menjadikan statusku sebagai budak dan pembantu yang paling hina dari sekian banyak pembantu dan budakmu. Mereka semua telah mendapatkan upahnya, lalu mana upah yang layak untukku, wahai anakku?
Dapatkah engkau berikan sedikit perlindungan kepadaku di bawah naungan kebesaranmu? Dapatkah engkau menganugerahkan sedikit kasih sayangmu demi mengobati derita orang tua yang malang ini? Sedangkan Allah Ta'ala mencintai orang yang berbuat baik.
Wahai anakku! Aku hanya ingin melihat wajahmu, dan aku tidak ingin menginginkan yang lain.
Wahai anakku! Hatiku teriris, air mataku mengalir, sedangkan engkau sehat wal afiat. Orang sering mengatakan bahwa engkau seorang laki-laki yang supel, dermawan dan berbudi. Anakku.. tidak tersentuhkah hatimu terhadap seorang wanita tua yang lemah, tidak terenyuhkah jiwamu melihat orang tua yang telah renta ini, ia binasa dimakan rindu, berselimutkan kesedihan dan berpakaian kedukaan?! Bukan karena apa-apa! Akan tetapi hanya karena engkau telah berhasil mengeluarkan air matanya.. Hanya karena engkau telah membalasnya dengan dengan luka di hatinya.. Hanya karena engkau telah pandai menikam dirinya dengan belati durhakamu tepat menghujam jantungya.. Hanya karena engkau telah berhasil pula memutuskan tali silaturrahum?!
Wahai anakku, Ibumu inilah sebenarnya pintu surga bagimu. Maka titilah jembatan itu menujunya, lewatilah jalannya dengan senyuman yang manis, pemaafan dan balas budi yang baik. Semoga aku bertemu denganmu di sana dengan kasih sayang Allah Ta'ala, sebagaimana Rasulullah telah sabdakan:
"Orang tua adalah pintu Surga yang di tengah, sekiranya engkau mau, sia-siakanlah pintu itu atau jagalah!" [HR. Ahmad]
Anakku, aku sangat mengenalmu, tahu sifat dan akhlakmu. Semenjak engkau beranjak dewasa saat itu pula tamak dan labamu kepada pahala dan Surga begitu tinggi. Engkau selalu bercerita tentang keutamaan berjamaah dan shaf pertama. Engkau selalu berniat untuk berinfak dan bersedekah.
Akan tetapi, anakku! Mungkin ada satu hadits yang terlupakan olehmu! Satu keutamaan besar yang terlalaikan olehmu, yaitu bahwa Nabi yang mulia shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu'anhu berkata: 'Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, 'Wahai Rasulullah, amal apa yang paling mulia?' Beliau berkata: 'Shalat pada waktunya', aku berkata: 'Kemudian apa, wahai Rasulullah?' Beliau berkata: 'Berbakti kepada orang tua', aku berkata: 'Kemudian apa, wahai Rasulullah!', Beliau menjawab, 'Jihad di jalan Allah', lalu beliau diam. Sekiranya aku bertanya lagi, niscaya beliau akan menjawabnya," [HR. Bukhari, Muslim dan Ahmad]
Wahai anakku! Ini aku, pahalamu, tanpa engkau perlu bersusah payah untuk memerdekakan budak atau untuk berletih dalam berinfak.
Pernahkah engkau mendengar cerita seorang ayah yang telah meninggalkan keluarga dan anak-anaknya dan berangkat jauh dari negerinya untuk mencari tambang emas?! Setelah tiga puluh tahun dalam perantauan, kiranya yang ia bawa pulang hanya tangan hampa dan kegagalan. Dia telah gagal dalam usahanya. Setibanya di rumah, orang tersebut tidak lagi melihat gubuk reotnya, tetapi yang dilihatnya sebuah perusahaan tambang emas yang besar. Berletih mencari emas di negeri orang kiranya, di sebelah gubuk reotnya orang mendirikan tambang emas.
Begitulah perumpamaanmu dengan kebaikan. Engkau berletih mencari pahala, engkau telah beramal banyak, tapi engkau telah lupa bahwa di dekatmu ada pahala yang maha besar. Di sampingmu ada orang yang dapat menghalangi atau mempercepat amalmu. Bukankah ridhoku adalah keridhoan Allah, dan murkaku adalah kemurkaanNya jua?
Anakku, yang aku cemaskan terhadapmu, yang aku takutkan bahwa jangan-jangan engkaulah yang dimaksudkan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dalam sabdanya:
"Merugilah seseorang, merugilah seseorang, merugilah seseorang, dikatakan (kepada Rasulullah): 'Siapa dia wahai Rasulullah?', beliau menjawab: 'Orang yang mendapatkan kedua ayah ibunya ketika tua, dan tidak memasukkannnya ke Surga," [HR. Muslim]
Anakku.. Aku tidak angkat keluhan ini ke langit dan aku tidak adukan duka ini kepada Allah, karena sekiranya keluhan ini telah membumbung menembus awan, melewati pintu-pintu langit, maka akan menimpamu kebinasaan dan kesengsaraan yang tidak ada obatnya dan tidak ada tabib yang dapat menyembuhkannya. Aku tidak akan melakukannya, nak! Bagaimana aku akan melakukannya sedangkan engkau adalah jantung hatiku.. Bagaimana ibumu ini kuat menengadahkan tangannya ke langit sedangkau engkau adalah pelipur laraku. Bagaimana ibu tega melihatmu merana terkena doa mustajab, padahal engkau bagiku adalah kebahagiaan hidupkku?
Bangunlah, nak! Uban sudah mulai merambat di kepalamu, akan berlalu masa sehingga engkau akan menjadi tua, dan al-jaza' min jinsil 'amal.. Engkau akan memetik sesuai dengan apa yang engkau tanam.. Aku tidak ingin engkau nantinya menulis surat yang sama kepada anak-anakmu, engkau tulis dengan air matamu sebagaimana aku menulismu dengan air mata itu pula kepadamu.
Wahai anakku, bertakwalah kepada Allah pada ibumu, peganglah kakinya! Sesungguhnya Surga di kakinya. Basuhlah air matanya, balurlah kesedihannya, kencangkan tulang ringkihnya, dan kokohkan badannya yang telah lapuk.
Anakku.. Setelah engkau membaca surat ini, terserah kepadamu! Apakah engkau sadar dan akan kembali atau engkau ingin merobeknya.
Wassalam,
Ibumu.
Sabtu, 14 Agustus 2010
Kakekku seorang pejuang....
-->
Searching nama kirdiat ternyata memunculan 38,700 items. tapi dari sekian nama ada satu yang membuatku bangga dan juga sedih ternyata kakekku adalah pejuang. terima kasih kepada saudara Tonang Mallongi, S.Pd.MA yang telah menshare secuil cerita besar buat negeri ini..
Buku yang berjudul Detik – detik Peristiwa Perdjuangan Gorontalo Merdeka 23 Djanuari – 16 Djuni 1942 yang disusun oleh Pedjuang Nasional, diterbitkan oleh BPPST, Djalan Gunung Batu Putih 4B Makassar dan dalam sambutan pendahuluannya Penyusun mencantumkan Djakarta Djanuari 1957 dengan tebal 113 halaman, buku ini juga di jadikan rujukan buku sumber dalam penulisan sejarah Gorontalo merdeka oleh Yayasan 23 Januari pada tahun 1980
Buku ini diawali dengan kata pendahuluan dan dilanjutkan dengan seluruh kejadian dan peristiwa yang berkenaan dengan Perjuangan Gorontalo Merdeka dari tanggal 23 Januari – 16 Juni 1942, pembahasannya dimulai dari Letak dan Keadaan Daerah Gorontalo Saat itu, Sikap Ra’jat dan Radja2 Gorontalo terhadap Belanda, Tanggal 23 Djanuari 1942 Meletusnya Pemberontakan, Pembentukan Pengawal Kota, Penangkapan 6 orang Belanda sesudah Aksi Pemberontakan, Pembentukan Badan Pemerintahan, Pengiriman Delegasi, Penangkapan terhadap Serdadu2 KNIL jang datang Mendarat di Gorontalo, Pengertian bersama dari pihak kepala2 distrik dan pembesar2 lainnja Tertjipta, Upatjara pemeriksaaan (Groot Inspeksi) Barisan Angkatan Perang, Kapal motor *Urania* datang Menbawa Tawanan dari Luwuk di Gorontalo, Pengiriman Delegasi jang Pertama untuk Menemui Pimpinan Angkatan Perang Djepang di Langoan, Pengiriman Delegasi yang Kedua, Pengiriman Delegasi yang Ketiga, Laksaman JAMADA Utusan Pemerintah di Tokio Mengadakan Kundjungan Kehormatan kepada Pemerintah Nasional Gorontalo, Pemerintahan Nasional Berakhir, dan Ditutup dengan Pernyataan.
Letak dan Keadaan Daerah Gorontalo
Letak dan keadaan daerah Gorontalo yang terdapat dalam buku ini tentunya sudah berbeda dengan keadaan Gorontalo saat ini, namun penulis akan mencoba menggambarkan Gorontalo saat itu sebagai mana adanya. Daerah Gorontalo ada terletak di bagian tengah dari semenanjung Utara dari pulai Sulawesi, yang terletak ditepi pantai teluk Gorontalo dan dekat pada katulistiwa. Dataran Gorontalo ada dikelilingi oleh pegunungan-pegunungan Tilongkabila, Dumbo dan Hulapada’a, sehingga dataran merupakan satu lembah yang sangat luas dan sebab itulah hawa di Gorontalo tidak begitu panas, walaupun terletak pada garis katulistiwa. Luasnya daerah Gorontalo meliputi Kabupaten Sulawesi utara (termasuk Swapraja Buwol tingkat kewedanan), Daerah Gorontalo yang terdiri dari atas kewedanan-kewedanan :
a. Gorontalo
b. Limboto
c. Suwawa
d. Kwandang
e. Boalemo
Daerah Buwol (kewedanan/swapradja Buwol)
Daerah Gorontalo berbatas pada sulawesi utara dengan laut sulawesi, pada sebelah timur dengan kabupaten Bolaang Mengondow, pada sebelah selatan dengan teluk Gorontalo dan pada sebelah barat dengan Swapradja Toli-toli. Penduduk asli daerah Gorontalo adala kira-kira 400.000 jiwa yang 100 % adalah Muslim, (adapun penduduk Gorontalo yang beragama Nasrani, ialah mereka yang tergolong kaum pendatang antara lain saudara-saudara suku Minahasa dan Sangir Talaud). Hasil bumi adalah Kopra, Rotan dan Damar, sementara makanan pokok masyarakat Gorontalo adalah Beras dan jagung, untuk mereka yang tinggal dikota-kota lebih suka beras tetapi bagi mereka yang tinggal di pedalaman lebih suka jagung. Ditengah-tengah daerah Gorontalo terdapat Danau Limboto yang dapat menghasilkan ikan yang menjadi makanan masyarakat Gorontalo. Daerah Gorontalo sekarang ini, (Baca : Pada saat sebelum provinsi) adalah terdiri dari lima distrik / Kewedanan, dimana dimasa lalu masing-masing kewedanan itu adalah merupakan kerajaan Gorontalo, Kerajaan Limboto, Kerajaan Suwawa, Kerajaan Bolango, dan kerajaan tinggola / Andagile.
Dalam lingkungan masyarakat adat Gorontalo, daerah Gorontalo merupakan satu daerah yang disebut DULUWO LIMO LO POHALA’A (Dua dalam lingkungan lima kekeluargaan) yang dua itu adalah Gorontalo – Limboto, Limboto – Gorontalo (dalam istilah adat jika menyebut Gorontalo – Limboto, maka kalimat harus diulangi dengan mendahulukan Limboto-Gorontalo, (ucapan yang berulang Limboto-Gorontalo, Gorontalo-Limboto) ini sebagai lambang kedudukan kedua kerajaan itu yang sama tingkat dan tarafnya dalam lingkungan lima kekeluargaan tersebut. Bagi yang berada didaerah Gorontalo yang mengucapkan ucapan tersebut maka haruslah mendahulukan kata limboto dan sebaliknya bagi yang berada di daerah Limboto ia harus mendahulukan Gorontalo, hal yang demikian adalah sebagai tanda penghormatan orang Limboto kepada Gorontalo dan orang Gorontalo kepada Limboto.
Sikap rakyat dan Raja-raja Gorontalo terhadap Belanda
Sejak kedatangan Belanda di daerah Gorontalo dan menaklukkan daerah ini, raja-raja dan rakyat Gorontalo senantiasa memperlihatkan sikap melawan penjajahan Belanda. Hanya dikarenakan kalah dalam kekuatan persenjataan maka Belanda tetap dalam pihak Menang sehingga kekuatan dan perlawanan raja-raja dengan rakyatnya dapat dipatahkan dengan mudah yang berakhir dengan tertangkapnya raja-raja serta dihukum buang (diasingkan). Adapun yang mendapat hukuman buang adalah SULTAN ISKANDAR BIJA ditangkap dan dihukum buang ke CEYLON, SULTAN MUHAMMAD (dari Limboto) dihukum buang ke Ambon dan Raja PANIPI Dibuang Ketanah Jawa. Sedikit pertanyaan yang mengelitik dari penulis apakah ketiga raja-raja diatas dapat ditelusuri makam maupun sejarahnya? Mungkin perlu dijawab dengan sebuah penelitian dan penelusuran bagi para pemerhati sejarah daerah Gorontalo.
Pada tahun 1887 Belanda sudah dapat mengakhiri kekuasaan para raja – raja di daerah Gorontalo dan semenjak itu daerah Gorontalo diperintah langsung oleh pemerintah Hindia-Belanda (Rechtstreeks Bestuur). Walupun Gorontalo dibawah kekuasaan Belanda, namun semangat perlawanan rakyat tidak kunjung padam. Jika di tanah jawa pada tahun 1912 berdiri organisasi BUDI UTOMO, maka di daerah Gorontalo pada masa itu berdiri yang namanya SINAR BUDI. SINAR BUDI tersebut dipelopori oleh POTIHEDU MONOARFA seorang pembesar pamong pradja dan SALEHE MONA seorang intelek yang terkemuka serta HUSAIN KATILI. Ketiganya adalah tokoh-tokoh yang terkemua saat itu. SINAR BUDI bergerak dilapangan sosial dan mengadakan perubahan-perubahan radikal dikalangan hidup dan kehidupan masyarakat Gorontalo.
SINAR BUDI bertujuan memperbaiki dan mengangkat keadaan dan nasib rakyat yang tertekan sebagai akibat penjajahan Belanda, dan SINAR BUDI memberi bimbingan serta gaya kepemimpinan yang praktis menuju kearah perbaikan taraf hidup dan penghidupan yang lebih baik. Pada masa itu masyarakat Gorontalo masih tertekan oleh keadaan feodalisme dan berjuistis. Oleh karena tindakan SINAR BUDI dapat dirasakan manfaatnya, terutama bagi golongan tertindas, maka lambat laun SINAR BUDI mendapat pengikut yang sangat besar jumlahnya dan kebanyakan dari mereka adalah masyarakat biasa. Bahkan bukan saja dari kaum-kaum proletar akan tetapi juga dari bangsawan yang insyaf dan berjiwa demokrasi. SINAR BUDI mendapat sambutan yang hangat serta besar sekali dari masyarakat. Ribuan pengikutnya mengalir untuk masuk SINAR BUDI sehingga pemerintah Hindia-Belanda mulai curiga dan gelisah.
Dengan cara yang licik para pemuda-pemuda dan pemimpin-pemimpin SINAR BUDI yang terdiri dari tokoh-tokoh bangsawan yang berpengaruh mulai didekati oleh pemerintah dengan dibujuk dengan berbagai macam rupa rayuan dan bujukan, akan tetapi kesadaran nasional, untuk memperbaiki nasib rakyat maka rayuan itu tidak pernah di indahkan bahkan pemimpin-pemimpin SINAR BUDI tetap melaksanakan program dan kegiatannya dan sejak saat itu, rakyat Gorontalo sudah mengenal dan mengerti akan cara-cara berorganisasi dan perkumpulan. Jam sejarah terus berputar, sesudah SINAR BUDI muncul pula Sarekat Ilsam (S.I) yang menggembleng seluruh rakyat Gorontalo yang 100 % beragama Islam untuk masuk didalamnya termasuk para pemuda yang sudah mencapai umur 18 tahun.
Pada tahun 1926 seluruh bagian dari daerah Gorontalo terlibat dalam sebuah pemberontakan yang dipelopori oleh Sarekat Islam (oleh rakyat Gorontalo dikenal dengan Sariika). Pemerintah Hindia-Belanda mengerahkan pasukannya yang terdiri atas Marsose dan polisi bersenjata (Gewaoende Politie) yang dapat memadamkan pemberontakan tersebut. Sesudah tahun 1926, walupun pemberontakan gagal, semangat perjuangan rakyat Gorontalo masih tetap berkobar. Pada tahun 1929 berdirilah perkumpulan Muhammadiyah yang dipelopori oleh TOM OLI’I, I.BADA, U.H.BULUATI, H. AKASE, MUHAMMAD DUNGGIO, HADJI JUSUF ABAS, MUHSIN MUHAMMAD. Sementara Aisiyah dipelopori oleh MARJAN LAMADILAU, MARIA SOLEMAN, MARIE DAMBEA, IDA DUNDA, NJ.LATIFA KAMBA, HADIDJA HUSA dan NONI ARBIE serta ZUBAIDAH DUNGGA.
Sebagai pemimpin Hizbulwathon ialah IBRAHIM MUHAMMAD dan UMAR HADJARATI, kemudian pada tahun 1930 berdiri pula JONG ISLAMIETEN BOND (JIB) yang dipelopori oleh DJAFAR ARBIE, S.KIRDIAT, TJANI LAMATO, MARIE OLI’I HAWA ARBI. Setahun kemudian berdiri pula PARTIJ INDONESIA (PARTINDO) yang dipelopori oleh SURJO KUSUMO dan NANI WARTABONE. Pada tahun itu juga muncul PARTIJ SAREKAT ISLAM INDONESIA (PSSI) yang dipelopori oleh ABDULLAH TUMU dan AHMAD HIPPY serta GAFFAR USU. Pada tahun 1934 berdiri pula NAHDATU’SJSJAAFI’JAH yang kemudian menjelma menjadi Nahdlatul Ulama yang dipelopori oleh M. LIPUTO dan HASAN MILE serta KADLI M. DUNGGIO. Kesemua organisasi tersebut berjalan dengan baik diseluruh kewedanan dan kecamatan di daerah Gorontalo bahkan kemudian meliputi seluruh daerah di sulawesi utara (Keresidenan Manado).
Suasana agak sedikit terganggu dan hampir terjadi kericuhan terutama disekitar tahun-tahun 1930, 1931, dan 1932, pada tahun itu hampir terjadi pemberontakan rakyat. Gerakan-gerakan pembelaan kejadian-kejadian di TRIPOLI (afrika) sangat mempengaruhi dan hampir-hampir merupakan gerakan anti barat.
Semangat kebangkitan nasional makin berkobar dengan datangnya utusan pengurus besar PARTINDO yakni Mr.ISKAK dari Jawa. Ketika diadakan rapat raksasa, rakyat datang berbondong-bondong untuk menghadiri rapat tersebut. Ketika mr. ISKAK berpidato tentang Poenalo sanctie, yakni rakyat hidup menderita dibawa tekanan penjajah Belanda, inspektur polisi Belanda sebagai petugas keamanan lalu menurunkan Mr.ISKAK dari atas Mimbar, serta tidak mengizinkan rapat untuk di teruskan sampai selesai. Mr. ISKAK dibawah langsung oleh petugas-petugas polisi kerumah asisten residen yang letaknya kira-kira dua Km dari tempat rapat raksasa itu. rakyat merasa terseinggung dengan sikap polisi Belanda itu dan akan menyerbu dengan niat akan merampas Mr.ISKAK dari tangan polisi. Namun akhirnya suasana dapat dkendalikan oleh panitia sehingga rakyat kembali ketempat masing-masing dengan hati yang kecewa.
Peristiwa yang kedua kembali terjadi pada tahun 1932, setahun setelah kejadian diatas. Pada waktu itu diadakan rapat raksasa di halaman mesjid Djami Gorontalo untuk merayakan hari besar Islam Idul adha, ribuan umat datang dari seluruh polosok Gorontalo untuk mendengar pidato dan khutbah dari TOM OLI’I seorang pemimpin masyarakat yang berdarah bangsawan serta berpengaruh di hadapan rakyat Gorontalo terutama dikalangan warga Muhammadiah. Pembicara lain dalam rapat raksasa itu yakni R.HIMAM seorang Guru Muhammadiyah yang menggambarkan perjuangan umat Islam Indonesia dengan mengibaratkan seperti seorang yang berjalan di tengah hutan rimba yang penuh dengan binatang buas yang sewaktu-waktu bisa menerkam mangsanya, maka inspektur polisi BAKKER yang turut hadir dalam rapat tersebut sebagai wakil dari pemerintah Hindia-Belanda bersama Djogugu R. Monoarfa, dengan pedang terhunus menurunkan pembicara dari atas mimbar, serta membubarkan rapat itu dengan cara yang amat kasar, yakni dengan mengayunkan pedangnya sambil mendesak para hadirin untuk kebelakang. Dengan keadaan ini, maka suasana semakin panik dan tegang. Anak-anak dan wanita lari tak menentu arah dan sebaliknya kaum laki-laki makin mendesak untuk segera ke depan dan hendak menangkap Ispektur polisi BAKKER, namun salah seorang hadirin yakni JUSUF ABAS seorang pemberani dan ahli pencak silat melompat dan tampil kedepan inspektur polisi tersebut dan langsung menangkapnya.
Rakyat setelah melihat inspektur polisi sudah tertangkap lalu mengeroyok pembantunya yakni Hooff Agent KOOPER dan dua belas orang pengawal polisi bangsa Indonesia yang turut menjaga keamanan ketika itu. kejadian berlanjut bahkan diantara para hadirin ada yang menganjurkan “perang sabil” dan segera membunuh para kafir-kafir tersebut, namun berkat kerja sama dan pengaruh serta kekuasaan dari Djogugu R. Monoarfa seorang kepala distrik yang disegani dan dihormati oleh rakyat Gorontalo dan Tom Oli’I, maka peristiwa yang tidak sama-sama diharapkan terhindar dan nyawa dari pengawal-pengawal polisi terselamatkan. Dengan usaha yang luar biasa kedua tokoh-tokoh pembesar Gorontalo itu berusaha mengendalikan emosi dan mengajak ribuan hadirin yang hatinya telah tersinggung oleh tindakan-tindakan inspektur polisi yang tidak sopan itu untuk tetap bersabar dan dapat mengendalikan emosinya.
Pada sore itu juga Tom Oli’I mengirim kawat (informasi) kepada Kejaksaan Agung (Hoofd Parket) yang berisi memprotes serta menuntut hukuman terhadap tindakan inspektur polisi BAKKER yang telah mengacau itu. seminggu kemudian Tom Oli’I mendapat panggilan dari Asisten Residen Gorontalo atas nama pemerintahan di Bogor untuk menyampaikan permohonan maaf serta penjelasan kepada Tom Oli’I atas tindakan yang sewenang-wenang dari petugas keamanan Inspektur polisi Bakker pada rapat raksasa dalam rangka merayakan hari raya Iedul Adha seminggu yang lalu. Bersamaan dengan pernyataan dan permohonan tersebut, inspektur polisi Bakker mendapat hukuman pindah dan di keluarkan dari daerah Gorontalo.
Peristiwa-peristiwa perjuangan rakyat Gorontalo terus berkobar sambil mengalami masa pasang surut, kadang kala menggembirakan, kadang kala juga menyedihkan, demikian seterusnya sampai dengan meletusnya perang dunia ke II. Negara Indonesia sebagai satu daerah yang dijajah oleh Belanda sudah puluhan tahun terus berjuang untuk kemerdekaan nasional. Insyaf dan sadar terhadap bahaya yang akan menimpa sebagai akibat dari pertentangan-pertentangan dan ketegangan-ketegangan politik dunia, bangsa Indonesia selalu mencari jalan keluar untuk menuju kepada perbaikan nasib dan kedudukan bangsa sebagai satu wilayah yang terletak dipersimpangan jalan Barat dan Timur.
Pada tahun 1939 berdiri Gabungan Politik Indonesia (GAPI) satu badan ynag bertujuan untuk mengerahkan dan mempersatukan tenaga para politikus-politikus Indonesia dalam satu badan yang kuat dan besar untuk menghadapi cita-cita perbaikan nasib bangsa di seluruh lini kehidupan bangsa Indonesia. Disamping GAPI didirikan, badan Kongres Rakyat Indonesia dan Komite Indonesia Berparlemen juga didirikan dengan tujuan yang sama yaitu untuk mendesak kepada pemerintah Hindia-Belanda supaya mengadakan “PARLEMEN”, dengan maksud agar supaya bangsa Indonesia dapat mengeluarkan suara dan bersama-sama pemerintah Hindia-Belanda untuk turut menentukan nasibnya serta mengadakan perubahan-perubahan secara staatrechtelijk di segala bidang dengan turut menentukan sikap terhadap bahaya perang dunia yang mengancam.
Diseluruh Indonesia, di kota-kota besar berdiri cabang-cabang dari Komite Indonesia Berparlemen, sebagai badan pengembleng seluruh tenaga dan potensi rakyat dalam satu Kongres Rakyat Indonesia. Di Gorontalo pun tak ketinggalan dalam pembentukan Cabang Komite Indonesia Berparlemen dengan ketuan umumnya R.M. Kusno Danupojo. Komite Indonesia Berpalemen tersebut dengan tegas menyatakan sikapnya dan bahkan dalam satu rapat raksasanya R.M.Kusno Danupojo dengan cara yang tegas dan jantan mengecam WELTER, Menteri Urusan Daerah Seberang dari kabinet Belanda saat itu, sebagai akibat dari kecaman tersebut R.M.Kusno Danupojo terpaksa harus berurusan dengan kontrolir dan diperiksa dengan tuduhan telah menghina kepala Welter. Suasana politik di Gorontalo saat itu diliputi oleh suasana mendung, sementara itu datang berita yang cukup menggemparkan, bahwa kerajaan Belanda telah di kuasai oleh angkatan perang Jerman dan telah diduduki setelah lima hari melakukan perlawanan.
Di Indonesia oleh Gubernur jendral TJARDA VAN STARKEN BOROUGH dinyatakan S.O.B di seluruh Indonesia. Kalau di Eropa angkatan perang Jerman dengan lancar melakukan tindakan offensifnya dengan jatuhnya berturut-turut: Denmark, Norwegia, Luxemburg, maka di Asia di lautan pasifik awan pemerangan meliputi udara, sehingga keadaan sangat tegang dan tinggal menunggu saat meletusnya perang, sementara hasrat bangsa Indonesia untuk berparlemen tidak kesampain juga.
Pada tanggal 8 Desember 1941, datanglah berita yang sudah lama ditunggu-tunggu, yang telah menjadi harapan dari rakyat yang telah jengkel melihat sikap Belanda yang masa bodoh. Berita itu adalah penyerbuan Jepang terhadap pertahanan bersama Amerika, Inggris, Belanda dan Tiongkok (A.B.C.D front) di Asia. Dengan penyerbuan itu, maka gelombang perang terus bergelora dan berkecamuk dilautan pasifik yang riaknya terasa sampai keseluruh pantai di Asia. Hal inilah yang menambah kekecewaan rakyat Indonesia semakin meningkat terhadap Belanda, sementara kekuasaan Belanda saat itu mulai goyah dan terancam. Daerah Hindia-Belanda yang terletak di pantai Pasifik, tidak luput dari ancaman akan serangan angkatan tentara Jepang.
Berpedoman kepada pengalaman perang di daratan Eropa dimana angkatan perang Jerman terus maju sehingga tak terbendungkan oleh kekuatan angkatan perang sekutu, maka Prancis mengambil siasat Bumi Hangus, sementara kekuasaan Hindia-Belanda di Indonesia yang yakin akan kelemahan angkatan perangnya dibandingkan dengan kekuatan angkatan perang jepang lalu mengambil siasat Bumi hangus juga. Untuk keperluan tersebut dibentuklah satu komando BUMI HANGUS (vernielingskorps). Semua pengawal disemua instansi ditugaskan agar supaya merusak sedapat mungkin semua yang dianggap penting yang ada dibawa kompetensinya masing-masing.
Di Gorontalo usaha bumi hangus tersebut sudah dimulai dengan pembakaran motor “KOLOLIO” yang kebetulan sedang berlabuh di pelabuhan Gorontalo. Bensin-bensin mulai di buang dari drumnya, jembatan-jembatan, gedung-gedung penting, kantor pos, bank, kesemuanya telah disiapkan dengan dynamiet dibawa tanah untuk diledakkan dan tinggal menunggu komando dari markas besarnya di Manado.
Syukurlah hal tersebut dengan perantara SARIPA RAHMAN HALA, seorang penyelidik dari kekuasaan Hindia-Belanda yang diambil sumpahnya oleh Asisiten Residen Corn di Gorontalo dengan diberi tugas untuk menjaga penyeberangan di Tangkobu (antara Gorontalo dan Paguyaman, informasi tentang bumi hangus dapat tercium oleh pemimpin-pemimpin yang tergabung didalam Komite Indonesia Berparlemen. Kepada SARIPA RAHMAN HALA oleh pemerintah Hindia Belanda ditugaskan untuk memutuskan tali tali kabel dari penyeberangan tersebut pada waktu yang telah ditentukan, sementara penyeberangan tersebut adalah urat nadi lalu lintas antara Gorontalo dan Paguyaman yang menghubungkan kota Gorontalo dengan daerah-daerah pedalamannya.
Sungguh pun SARIPA RAHMAN HALA sebagai seorang penyelidik yang telah diambil sumpahnya oleh kekuasaan Hindia-Belanda, namun terdorong oleh rasa tanggung jawab terhadap tanah air dan bangsa (beliau adalah seorang warga Muhamadiyah Gorontalo) yang berkeyakian bahwa bilamana usaha bumi hangus itu akan terlaksana pasti akan menimbulkan akibat kerusakan dan kebinasaan yang pada akhirnya rakyat dan penduduk Gorontalo jualah yang akan menderita dan merasakannya. Dengan jiwa patriotik inilah, beliau melepaskan diri dari ikatan belenggu sumpah yang telah diucapkannya kepada kekuasaan Hindia Belanda dan memihak kepada perjuangan Nasional Indonesia dengan lalu menggabungkan diri dengan gerakan nasional melalui perantara O.KAHARU dan AHMAD HIPY, anggota Komite Indonesia Berparlemen. SARIPA RAHMAN HALA lalu menceritakan instruksi-instruksi yang telah diterimanya dari asisten residen Corn, berita yang disampaikannya bukan saja mengenai pengrusakan penyeberangan Gorontalo-Paguyaman akan tetapi semua usaha pengrusakan objek-objek terpenting di seluruh daerah Gorontalo. Berdasarkan laporan inilah, AHMAD HIPY lalu menyampaikannya kepada R.M.Kusno Danupojo, sebagai Ketua Umum dari Komite Indonesia Berparlemen, dan informasi ini menjadi salah satu persolan terpenting dalam rencana usaha Komite Indonesia Berpalemen.
Dengan segera, diaturlah tindakan-tindakan untuk menggagalkan usaha kekuasaan Hindia-Belanda untuk melaksanakan usaha Bumi Hangus itu. Atas pimpinan R.M.KUSNO DANUPOJO dan NANI WARTABONE dengan dibantu yang lainnya, maka lalu diadakan seluruh persiapan-persiapan yang berkenaan dengan rencana itu. bahkan niat dan maksud tersebut bukan hanya berhenti untuk mengagalkan usaha kekuasaan Hindia Belanda dalam hal Bumi Hangus, akan tetapi persiapan tersebut telah dipersiapkan untuk melakukan perampasan kekuasaan dari para pembesar-pembesar Hindia-Belanda, tegasnya akan melakukan pemberontakan. Komite Indonesia Berparlemen yang tadinya sebagai badan perjuangan yang bersifat politik, lalu menjelma menjadi Badan Pemborontak yang telah bertindak secara tegas pada tanggal 23 Januari 1942 dengan menangkapi seluruh pembesar-pembesar bangsa Belanda dan pengawal-pengawal pemerintah Hindia Belanda lainnya.
Bersambung………
Oleh : Tonang Mallongi, S.Pd.MA
Kandidat Doktor Jurusan Pemikiran Politik Islam UIN Makassar Pernah tinggal di Belanda.
Pertama kali dipublikasikan di Gorontalo Post edisi 21 Januari 2008
Selasa, 27 April 2010
UNTUK ISTRIKU (sebuah posting dari seorang teman)
Empat tahun yang lalu, kecelakaan telah merenggut orang yang kukasihi, sering aku bertanya-tanya, bagaimana keadaan istri saya sekarang di alam surgawi, baik-baik sajakah? Dia pasti sangat sedih karena sudah meninggalkan sorang suami yang tidak mampu mengurus rumah dan seorang anak yang masih begitu kecil. Begitulah yang kurasakan, karena selama ini saya merasa bahwa saya telah gagal, tidak bisa memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani anak saya, dan gagal untuk menjadi ayah dan ibu untuk anak saya.
Pada suatu hari, ada urusan penting di tempat kerja, aku harus segera berangkat ke kantor, anak saya masih tertidur. Ohhh... aku harus menyediakan makan untuknya.
Karena masih ada sisa nasi, jadi aku menggoreng telur untuk dia makan. Setelah memberitahu anak saya yang masih mengantuk, kemudian aku bergegas berangkat ke tempat kerja.
Peran ganda yang kujalani, membuat energiku benar-benar terkuras. Suatu hari
ketika aku pulang kerja aku merasa sangat lelah, setelah bekerja sepanjang
hari. Hanya sekilas aku memeluk dan mencium anakku, saya langsung masuk ke kamar tidur, dan melewatkan makan malam. Namun, ketika aku merebahkan badan ke tempat tidur dengan maksud untuk tidur sejenak menghilangkan kepenatan, tiba-tiba saya merasa ada sesuatu yang pecah dan tumpah seperti cairan hangat!
Aku membuka selimut dan..... di sanalah sumber 'masalah'nya ... sebuah
mangkuk yang pecah dengan mie instan yang berantakan di seprai dan selimut!
Oh...Tuhan! Aku begitu marah, aku mengambil gantungan pakaian, dan langsung menghujani anak saya yang sedang gembira bermain dengan main anny a, dengan pukulan-pukulan! Dia hanya menangis, sedikitpun tidak meminta belas kasihan, dia hanya memberi penjelasan singkat:
"Dad, tadi aku merasa lapar dan tidak ada lagi sisa nasi. Tapi ayah belum
pulang, jadi aku ingin memasak mie instan. Aku ingat, ayah pernah mengatakan untuk tidak menyentuh atau menggunakan kompor gas tanpa ada orang dewasa di sekitar, maka aku menyalakan mesin air minum ini dan menggunakan air panas untuk memasak mie. Satu untuk ayah dan yang satu lagi untuk saya .. Karena aku takut mie'nya akan menjadi dingin, jadi aku menyimpannya di bawah selimut supaya tetap hangat sampai ayah pulang. Tapi aku lupa untuk mengingatkan ayah karena aku sedang bermain dengan mainan saya ... Saya minta maaf Dad
...
"
Seketika, air mata mulai mengalir di pipiku ... tetapi, saya tidak ingin anak saya melihat ayahnya menangis maka aku berlari ke kamar mandi dan menangis dengan menyalakan shower di kamar mandi untuk menutupi suara tangis saya.
Setelah beberapa lama, aku hampiri anak saya, memeluknya dengan erat dan
memberikan obat kepadanya atas luka bekas pukulan dipantatnya, lalu aku membujuknya untuk tidur. Kemudian aku membersihkan kotoran tumpahan mie di tempat tidur.
Ketika semuanya sudah selesai dan lewat tengah malam, aku melewati kamar
anakku, dan melihat anakku masih menangis, bukan karena rasa sakit di
pantatnya, tapi karena dia sedang melihat foto mommy yang dikasihinya.
Satu tahun berlalu sejak kejadian itu, saya mencoba, dalam periode ini,
untuk memusatkan perhatian dengan memberinya kasih sayang seorang ayah dan juga kasih sayang seorang ibu, serta memperhatikan semua kebutuhannya. Tanpa terasa, anakku sudah berumur tujuh tahun, dan akan lulus dari Taman
Kanak-kanak. Untungnya, insiden yang terjadi tidak meninggalkan kenangan buruk di masa kecilnya dan dia sudah tumbuh dewasa dengan bahagia.
Namun... belum lama, aku sudah memukul anakku lagi, saya benar-benar menyesal....Guru Taman Kanak-kanaknya memanggilku dan memberitahukan bahwa anak saya absen dari sekolah. Aku pulang kerumah lebih awal dari kantor, aku berharap dia bisa menjelaskan. Tapi ia tidak ada dirumah, aku pergi mencari di sekitar rumah kami, memangil-manggil namanya dan akhirnya menemukan dirinya di sebuah toko alat tulis, sedang bermain komputer game dengan gembira. Aku marah, membawanya pulang dan menghujaninya dengan pukulan-pukulan. Dia diam saja lalu mengatakan, "Aku minta maaf, Dad".
Selang beberapa lama aku selidiki, ternyata ia absen dari acara "pertunjukan
bakat" yang diadakan oleh sekolah, karena yg diundang adalah siswa dengan
ibunya. Dan itulah alasan ketidakhadirannya karena ia tidak punya ibu......
Beberapa hari setelah penghukuman dengan pukulan rotan, anakku pulang ke
rumah memberitahu saya, bahwa disekolahnya mulai diajarkan cara membaca dan menulis. Sejak saat itu, anakku lebih banyak mengurung diri di kamarnya untuk berlatih menulis, yang saya yakin, jika istri saya masih ada dan melihatnya ia akan merasa bangga, tentu saja dia membuat saya bangga juga!
Hari ini, anakku membuat masalah lagi. Ketika aku sedang menyelasaikan pekerjaan di hari-hari terakhir kerja, tiba-tiba kantor pos menelpon. Karena pengiriman surat sedang mengalami puncaknya, tukang pos juga sedang sibuk-sibuknya, suasana hati mereka pun jadi kurang bagus.
Mereka menelpon saya dengan marah-marah, untuk memberitahu bahwa anak saya telah mengirim beberapa surat tanpa alamat. Walaupun saya sudah berjanji untuk tidak pernah memukul anak saya lagi, tetapi saya tidak bisa menahan diri untuk tidak memukulnya lagi, karena saya merasa bahwa anak ini sudah benar-benar keterlaluan. . Tapi sekali lagi, seperti sebelumnya, dia meminta maaf : "Maaf, Dad". Tidak ada tambahan satu kata pun untuk menjelaskan alasannya melakukan itu.
Setelah itu saya pergi ke kantor pos untuk mengambil surat-surat tanpa alamat tersebut lalu pulang. Sesampai di rumah, dengan marah saya mendorong
anak saya ke sudut mempertanyakan kepadanya, perbuatan konyol apalagi ini? Apa yang ada dikepalanya?
Jawabannya, di tengah isak-tangisnya, adalah : "Surat-surat itu untuk mommy.....".
Tiba-tiba mataku berkaca-kaca. .... tapi aku mencoba mengendalikan emosi dan
terus bertanya kepadanya: "Tapi kenapa kamu memposkan begitu banyak
surat-surat, pada waktu yg sama?"
Jawaban anakku itu : "Aku telah menulis surat buat mommy untuk waktu yang
lama, tapi setiap kali aku mau menjangkau kotak pos itu, terlalu tinggi
bagiku, sehingga aku tidak dapat memposkan surat-suratku. Tapi baru-baru ini, ketika aku kembali ke kotak pos, aku bisa mencapai kotak itu dan aku mengirimkannya sekaligus".
Setelah mendengar penjelas anny a ini, aku kehilangan kata-kata, aku bingung, tidak tahu apa yang harus aku lakukan, dan apa yang harus aku katakan ....
Aku bilang pada anakku, "Nak, mommy sudah berada di surga, jadi untuk selanjutnya, jika kamu hendak menuliskan sesuatu untuk mommy, cukup dengan membakar surat tersebut maka surat akan sampai kepada mommy. Setelah mendengar hal ini, anakku jadi lebih tenang, dan segera setelah itu, ia bisa tidur dengan nyenyak. Saya berjanji akan membakar surat-surat atas namanya, jadi saya membawa surat-surat tersebut ke luar, tapi.... saya jadi penasaran untuk tidak membuka surat tersebut sebelum mereka berubah menjadi abu.
Dan salah satu dari isi surat-suratnya membuat hati saya hancur......
'Mommy sayang',
Saya sangat merindukanmu! Hari ini, ada sebuah acara 'Pertunjukan Bakat' di
sekolah, dan mengundang semua ibu untuk hadir di pertunjukan tersebut.. Tapi
kamu tidak ada, jadi saya tidak ingin menghadirinya juga. Aku tidak memberitahu ayah
tentang hal ini karena aku takut ayah akan mulai menangis dan merindukanmu lagi.
Saat itu untuk menyembunyikan kesedihan, aku duduk di depan komputer dan
mulai bermain game di salah satu toko. Ayah keliling-keliling mencari saya,
setelah menemukanku ayah marah, dan aku hanya bisa diam, ayah memukul aku, tetapi aku tidak menceritakan alasan yang sebenarnya.
Mommy, setiap hari saya melihat ayah merindukanmu, setiap kali dia teringat
padamu, ia begitu sedih dan sering bersembunyi dan menangis di kamarnya.
Saya pikir kita berdua amat sangat merindukanmu. Terlalu berat untuk kita berdua, saya rasa. Tapi mom, aku mulai melupakan wajahmu. Bisakah mommy muncul dalam mimpiku sehingga saya dapat melihat wajahmu dan ingat anda? Temanku bilang jika kau tertidur dengan foto orang yang kamu rindukan, maka kamu akan melihat orang tersebut dalam mimpimu. Tapi mommy, mengapa engkau tak pernah muncul?
Setelah membaca surat itu, tangisku tidak bisa berhenti karena saya tidak pernah bisa menggantikan kesenjangan yang tak dapat digantikan semenjak ditinggalkan oleh istri saya ....
Untuk para suami, yang telah dianugerahi seorang istri yang baik, yang penuh
kasih terhadap anak-anakmu selalu berterima-kasihlah setiap hari padanya.
Dia telah rela menghabiskan sisa umurnya untuk menemani hidupmu, membantumu, mendukungmu, memanjakanmu dan selalu setia menunggumu, menjaga dan menyayangi dirimu dan anak-anakmu.
Hargailah keberadaannya, kasihilah dan cintailah dia sepanjang hidupmu
dengan segala kekurangan dan kelebih anny a, karena apabila engkau telah
kehilangan dia, tidak ada emas permata, intan berlian yg bisa menggantikan posisinya.
Pada suatu hari, ada urusan penting di tempat kerja, aku harus segera berangkat ke kantor, anak saya masih tertidur. Ohhh... aku harus menyediakan makan untuknya.
Karena masih ada sisa nasi, jadi aku menggoreng telur untuk dia makan. Setelah memberitahu anak saya yang masih mengantuk, kemudian aku bergegas berangkat ke tempat kerja.
Peran ganda yang kujalani, membuat energiku benar-benar terkuras. Suatu hari
ketika aku pulang kerja aku merasa sangat lelah, setelah bekerja sepanjang
hari. Hanya sekilas aku memeluk dan mencium anakku, saya langsung masuk ke kamar tidur, dan melewatkan makan malam. Namun, ketika aku merebahkan badan ke tempat tidur dengan maksud untuk tidur sejenak menghilangkan kepenatan, tiba-tiba saya merasa ada sesuatu yang pecah dan tumpah seperti cairan hangat!
Aku membuka selimut dan..... di sanalah sumber 'masalah'nya ... sebuah
mangkuk yang pecah dengan mie instan yang berantakan di seprai dan selimut!
Oh...Tuhan! Aku begitu marah, aku mengambil gantungan pakaian, dan langsung menghujani anak saya yang sedang gembira bermain dengan main anny a, dengan pukulan-pukulan! Dia hanya menangis, sedikitpun tidak meminta belas kasihan, dia hanya memberi penjelasan singkat:
"Dad, tadi aku merasa lapar dan tidak ada lagi sisa nasi. Tapi ayah belum
pulang, jadi aku ingin memasak mie instan. Aku ingat, ayah pernah mengatakan untuk tidak menyentuh atau menggunakan kompor gas tanpa ada orang dewasa di sekitar, maka aku menyalakan mesin air minum ini dan menggunakan air panas untuk memasak mie. Satu untuk ayah dan yang satu lagi untuk saya .. Karena aku takut mie'nya akan menjadi dingin, jadi aku menyimpannya di bawah selimut supaya tetap hangat sampai ayah pulang. Tapi aku lupa untuk mengingatkan ayah karena aku sedang bermain dengan mainan saya ... Saya minta maaf Dad
...
"
Seketika, air mata mulai mengalir di pipiku ... tetapi, saya tidak ingin anak saya melihat ayahnya menangis maka aku berlari ke kamar mandi dan menangis dengan menyalakan shower di kamar mandi untuk menutupi suara tangis saya.
Setelah beberapa lama, aku hampiri anak saya, memeluknya dengan erat dan
memberikan obat kepadanya atas luka bekas pukulan dipantatnya, lalu aku membujuknya untuk tidur. Kemudian aku membersihkan kotoran tumpahan mie di tempat tidur.
Ketika semuanya sudah selesai dan lewat tengah malam, aku melewati kamar
anakku, dan melihat anakku masih menangis, bukan karena rasa sakit di
pantatnya, tapi karena dia sedang melihat foto mommy yang dikasihinya.
Satu tahun berlalu sejak kejadian itu, saya mencoba, dalam periode ini,
untuk memusatkan perhatian dengan memberinya kasih sayang seorang ayah dan juga kasih sayang seorang ibu, serta memperhatikan semua kebutuhannya. Tanpa terasa, anakku sudah berumur tujuh tahun, dan akan lulus dari Taman
Kanak-kanak. Untungnya, insiden yang terjadi tidak meninggalkan kenangan buruk di masa kecilnya dan dia sudah tumbuh dewasa dengan bahagia.
Namun... belum lama, aku sudah memukul anakku lagi, saya benar-benar menyesal....Guru Taman Kanak-kanaknya memanggilku dan memberitahukan bahwa anak saya absen dari sekolah. Aku pulang kerumah lebih awal dari kantor, aku berharap dia bisa menjelaskan. Tapi ia tidak ada dirumah, aku pergi mencari di sekitar rumah kami, memangil-manggil namanya dan akhirnya menemukan dirinya di sebuah toko alat tulis, sedang bermain komputer game dengan gembira. Aku marah, membawanya pulang dan menghujaninya dengan pukulan-pukulan. Dia diam saja lalu mengatakan, "Aku minta maaf, Dad".
Selang beberapa lama aku selidiki, ternyata ia absen dari acara "pertunjukan
bakat" yang diadakan oleh sekolah, karena yg diundang adalah siswa dengan
ibunya. Dan itulah alasan ketidakhadirannya karena ia tidak punya ibu......
Beberapa hari setelah penghukuman dengan pukulan rotan, anakku pulang ke
rumah memberitahu saya, bahwa disekolahnya mulai diajarkan cara membaca dan menulis. Sejak saat itu, anakku lebih banyak mengurung diri di kamarnya untuk berlatih menulis, yang saya yakin, jika istri saya masih ada dan melihatnya ia akan merasa bangga, tentu saja dia membuat saya bangga juga!
Hari ini, anakku membuat masalah lagi. Ketika aku sedang menyelasaikan pekerjaan di hari-hari terakhir kerja, tiba-tiba kantor pos menelpon. Karena pengiriman surat sedang mengalami puncaknya, tukang pos juga sedang sibuk-sibuknya, suasana hati mereka pun jadi kurang bagus.
Mereka menelpon saya dengan marah-marah, untuk memberitahu bahwa anak saya telah mengirim beberapa surat tanpa alamat. Walaupun saya sudah berjanji untuk tidak pernah memukul anak saya lagi, tetapi saya tidak bisa menahan diri untuk tidak memukulnya lagi, karena saya merasa bahwa anak ini sudah benar-benar keterlaluan. . Tapi sekali lagi, seperti sebelumnya, dia meminta maaf : "Maaf, Dad". Tidak ada tambahan satu kata pun untuk menjelaskan alasannya melakukan itu.
Setelah itu saya pergi ke kantor pos untuk mengambil surat-surat tanpa alamat tersebut lalu pulang. Sesampai di rumah, dengan marah saya mendorong
anak saya ke sudut mempertanyakan kepadanya, perbuatan konyol apalagi ini? Apa yang ada dikepalanya?
Jawabannya, di tengah isak-tangisnya, adalah : "Surat-surat itu untuk mommy.....".
Tiba-tiba mataku berkaca-kaca. .... tapi aku mencoba mengendalikan emosi dan
terus bertanya kepadanya: "Tapi kenapa kamu memposkan begitu banyak
surat-surat, pada waktu yg sama?"
Jawaban anakku itu : "Aku telah menulis surat buat mommy untuk waktu yang
lama, tapi setiap kali aku mau menjangkau kotak pos itu, terlalu tinggi
bagiku, sehingga aku tidak dapat memposkan surat-suratku. Tapi baru-baru ini, ketika aku kembali ke kotak pos, aku bisa mencapai kotak itu dan aku mengirimkannya sekaligus".
Setelah mendengar penjelas anny a ini, aku kehilangan kata-kata, aku bingung, tidak tahu apa yang harus aku lakukan, dan apa yang harus aku katakan ....
Aku bilang pada anakku, "Nak, mommy sudah berada di surga, jadi untuk selanjutnya, jika kamu hendak menuliskan sesuatu untuk mommy, cukup dengan membakar surat tersebut maka surat akan sampai kepada mommy. Setelah mendengar hal ini, anakku jadi lebih tenang, dan segera setelah itu, ia bisa tidur dengan nyenyak. Saya berjanji akan membakar surat-surat atas namanya, jadi saya membawa surat-surat tersebut ke luar, tapi.... saya jadi penasaran untuk tidak membuka surat tersebut sebelum mereka berubah menjadi abu.
Dan salah satu dari isi surat-suratnya membuat hati saya hancur......
'Mommy sayang',
Saya sangat merindukanmu! Hari ini, ada sebuah acara 'Pertunjukan Bakat' di
sekolah, dan mengundang semua ibu untuk hadir di pertunjukan tersebut.. Tapi
kamu tidak ada, jadi saya tidak ingin menghadirinya juga. Aku tidak memberitahu ayah
tentang hal ini karena aku takut ayah akan mulai menangis dan merindukanmu lagi.
Saat itu untuk menyembunyikan kesedihan, aku duduk di depan komputer dan
mulai bermain game di salah satu toko. Ayah keliling-keliling mencari saya,
setelah menemukanku ayah marah, dan aku hanya bisa diam, ayah memukul aku, tetapi aku tidak menceritakan alasan yang sebenarnya.
Mommy, setiap hari saya melihat ayah merindukanmu, setiap kali dia teringat
padamu, ia begitu sedih dan sering bersembunyi dan menangis di kamarnya.
Saya pikir kita berdua amat sangat merindukanmu. Terlalu berat untuk kita berdua, saya rasa. Tapi mom, aku mulai melupakan wajahmu. Bisakah mommy muncul dalam mimpiku sehingga saya dapat melihat wajahmu dan ingat anda? Temanku bilang jika kau tertidur dengan foto orang yang kamu rindukan, maka kamu akan melihat orang tersebut dalam mimpimu. Tapi mommy, mengapa engkau tak pernah muncul?
Setelah membaca surat itu, tangisku tidak bisa berhenti karena saya tidak pernah bisa menggantikan kesenjangan yang tak dapat digantikan semenjak ditinggalkan oleh istri saya ....
Untuk para suami, yang telah dianugerahi seorang istri yang baik, yang penuh
kasih terhadap anak-anakmu selalu berterima-kasihlah setiap hari padanya.
Dia telah rela menghabiskan sisa umurnya untuk menemani hidupmu, membantumu, mendukungmu, memanjakanmu dan selalu setia menunggumu, menjaga dan menyayangi dirimu dan anak-anakmu.
Hargailah keberadaannya, kasihilah dan cintailah dia sepanjang hidupmu
dengan segala kekurangan dan kelebih anny a, karena apabila engkau telah
kehilangan dia, tidak ada emas permata, intan berlian yg bisa menggantikan posisinya.
Langganan:
Postingan (Atom)
















